Wajah PerFilman Indonesia
True Story February 7th, 2013
Bicara tentang film, saya dan pasangan (baca: suami) memiliki cara yang sangat berbeda dalam memilih judul film yang hendak ditonton di bioskop. Suami selalu memilih film dengan melihat rumah produksinya. sementara saya ? selera saya sangat tidak berkelas, memilih film tergantung dari review banyak orang di internet. hihi kelihatan banget pengetahuan saya sangat minim tentang dunia film. Boro-boro bicara rumah produksi, nama-nama aktor/aktris pun belum tentu saya hafal sekalipun sudah sering menonton filmnya. ohya maaf, film-film yang dimaksud bukan film Indoanesia.
Karna itulah, saat disodori tema tulisan “Film Indonesia”, saya sempat tercenung beberapa menit. mau nulis apa yaa ?
secara, pengetahuan saya tentang perfilman kan hanya sedikit, bahkan bisa dibilang hampir tidak ada.
Akhirnya, sebelum mengulas perfilman Indonesia, saya sempat bertanya beberapa hal ke suami melalui telepon SLJJ seperti biasanya ;
“Pa, selama ini Papa nonton film itu ngelihat dari apanya sih ?” sengaja mempertanyakan hal ini untuk memastikan paragraf pertama diatas nggak salah cerita
![]()
“lihat rumah produksinya nda”
“iya itu kan kalo milih film barat. kalo film indonesia liat apanya ?”
“nggak ada yang diliat. Film indonesia kebanyakan kan nggak jauh dari cerita hantu. pocong makan kawat, kuntilanak jual nasi goreng, hh.. ngak pernah jauh-jauh dari cerita hantu”
“ish Papa ini. Tapi kan film Indonesia banyak juga yang bagus Pa. The raid misalnya?”
“The raid kan sutradaranya orang luar nda”
“Gitu ya Pa ? hahahah… nda ga ngerti”
“haduuw gimana istri papa ini…”
“hihihi…” hanya bisa meringis menutupi ketidaktahuan.
“kalo Riri Reza, Mira lesmana, hanung bramantyo, gimana Pa ?”
“iya ada yang bagus. film Laskar pelangi bagus. kalo hanung ada tuh yang bagus, serial ramadhan di sctv yang mainnya dedy mizwar” (fyi, belakangan setelah telpon usia saya baru inget kalo serial ramadhan yang dimaksud itu Para Pencari Tuhan (PPT). Dan ternyata setelah googling, sutradara serial PPT bukanlah hanung, melainkan Dedy Mizwar)
“nda ini lagi mo nulis perfilman Indonesia. Tantangan kompetisi liga blogger minggu ini temanya tentang Film Indonesia. Kira-kira bagusnya nulis apa ya Pa ?”
“Nda tulis aja memang film Indonesia belum bagus. Banyaklah film bergenre hantu ketimbang film yang bagus“
…dan sampai pembicaraan ditelepon beralih ke pembahasan hal-hal lain, saya masih belum menemukan ide untuk mengulas film Indonesia ![]()
btw, diluar itu suami masih tetap rajin kok menonton film Indonesia. Tetapi bukan dari bioskop. Dia menontonnya dengan menyewa vcd film setelah beredar vcd resminya. (sekedar mendandakan bahwa dia bukanlah orang Indonesia yang anti dengan film Indonesia).
Begitu juga saya, kalau bukan film Infonesia yang bagus-bagus amat, males banget nonton film indonesia di bioskop. Bukan apa, semenjak saya tinggal jauh dari kota, nonton film di bioskop menjadi barang langka. Nunggu pas lagi ke kota baru deh sempetin ke XXI. nah kalo udah jauh-jauh gini, ngapain coba bela-belain ke bioskop hanya untuk nonton film indonesia ? terlebih untuk film-film semacam air terjun pengantin, arisan, dan juga film-film Indonesia standar lainnya, kecuali pas lagi ada film Indonesia yang bagus yang sedang tayang.
Dan berikut ini, adalah beberapa film Indonesia yang masih bisa saya ingat, yang pernah saya tonton di bioskop dengan sejuta keluh kesah setelah menonton film :
- Janji Joni, datar aja sih film ini. Saya bahkan lupa film ini bercerita tentang apa ya ? *sengaja nggak berusaha googling*
- 3 do’a 3 cinta, selama nonton film ini beberapa kali saya menguapa karena ngantuk. Yang paling saya ingat itu ada satu scene yang menyoroti pintu gerbang nggak penting sampe bermenit-menit. hoaammm.. ngantuk nunggunya. film ini sama sekali nggak memancing emosi penonton. ohya ada lagi yang terekam otak, kalo nggak salah sih, mengangkat kisah lelaki homo juga kan ya difilm ini ?
- Cinta dua hati, disepanjang menonton film ini yang ada difikiran saya cuma satu “film ini kapan selesaaiiiii
“. sumpah membosankan. Tapi saya heran karena ada aja orang yang mereview film ini bilang kalo film ini sangat romantis dan sampe nangis karna terharu. hadew.. faktor perbedaan umur kali ya
- Putih Abu-abu dan sepatu kets. ya iyalah, dari judulnya aja udah tau banget saya nggak cocok lagi dengan genre film remaja. Dasar aja dulu dengan temen-temen #komunitasmalamsenin masih nekat nonton film ini. Yang ada ya misuh-misuh sekeluarnya dari bioskop hihihi
- Menembus Impian, film ini benar-benar hanya mejual impian
! Tema film ini memang MLM banget. Dan saya bisa nyasar sebagai salah satu penonton karena ada teman yang anggota MLM tianshi yang mengajak ikut menonton.
Alhamdulillah sejauh ini belum pernah ke bioskop untuk menonton film nggak bermutu sekelas hantu lumpur, pocong tali perawan, kuntilanak di pohon jambu, atau apalah. Begitupun belum pernah sekalipun nekat mencari vcd film-film tersebut. Sedatar-datar film yang saya ulas diatas, masih tetap jauh lebih bagus ketimbang film perhantuan yang hanya memamerkan keseksian.
Selain menonton film-film Indonesia yang gagal membangkitkan emosi penonton, tentunya banyak juga film karya anak bangsa yang bagus yang pernah saya tonton. Seperti Laskar Pelangi, Gie, Serigala Terakhir, AADC, Pasir Berbisik, Biola Tak Berdawai, Tanah Surga Katanya, Eliana-Eliana, dan ada banyak lagi film Infonesia keren lainnya. Film-film ini selain mendapat apresiasi yang besar dari masyarakat juga mendapat penghargaan diluar negeri. Untuk lebih detil mengetahui koleksi-koleksi film Indonesia bisa berkunjung ke situs film Indonesia ini.
Bicara perfilman tentunya tak bisa lepas dari industri film. Terkadang miris melihat maraknya film yang latah mengangkat tema hantu pocong yang tidak membawa pesan moral apapun selain kontroversi semi porno. Tapi apa daya, nyatanya masih banyak masyarakat yang menggemari film sejenis ini. Wajar jika industri film memanfaatkan momen ini. Mereka tidak lagi memikirkan mutu demi meraup keuntungan.
Padahal, Indonesia ini kaya akan budaya dan sejarah yang sangat menarik yang bisa diangkat ke versi layar lebar. Peluang itu sangat terbuka lebar bagi seniman-seniman perfilman Indonesia. Seperti film yang belum lama ini dirilis, Gending Sriwijaya. Saya memang belum sempat menonton, hanya membaca reviewnya disini dan disini. Rata-rata memberi skor 8+/10 untuk film ini. Bukan hanya karena sekarang saya kerja di Sumsel lantas saya menganggap film ini bagus, tetapi memang langkah yang diambil oleh Prov Sumsel bisa ditiru oleh provinsi lain. Bapak Gubernur Sumsel, Alex Noerdin, membuat terobosan bagus bekerjasama dengan rumah produksi untuk mengangkat cerita daerah menjadi film yang positif dan layak tonton. Ada banyak manfaat positif dari sebuah film berlatar cerita daerah :
- Promo Pariwisata
Sebelum Gending Sriwijaya, Pemprov Sumsel telah melahirkan film Pengejar Angin dengan setting di beberapa daerah Prov Sum-Sel. Dari film ini semakin banyak orang yang mengenal wilayah sumsel dan daerah pariwisata sumsel.
Seperti juga film Laskar Pelangi yang menucatkan nama Pulau Belitong dan menarik minat wisatawan yang besar. - Melestarikan budaya dan nilai-nilai sejarah
Selain meninggalkan pesan moral melalui film, mengangkat tema daerah bisa menjadi salah satu upaya dalam mengenalkan budaya, sekaligus melestarikan budaya daerah. Selain itu anak bangsa juga bisa belajar sejarah negerinya lebih dalam lagi - Meningkatkan gairah industri seni lokal
Pembuatan sebuah film tentu membutuhkan sumber daya yang banyak, termasuk juga sumber daya manusianya. Dengan adanya kerjasama antara rumah produksi dengan pemerintah daerah, tentu akan melibatkan banyak pelaku seni baik sebagai pendukung film maupun sebagai operator belakang layar. Ini tentu saja berdampak positif untuk menggairahkan industri lokal. - Meningkatkan PAD
Rasanya poin ini tidak perlu dijelaskan lebih detil. Menjual pariwisata lewat industri film sangat efektif. Lihat saja korea yang berhasil menyedot wisatawan dari industri perfilmannya. Atau balik lagi ke Belitong yang sekarang ini selalu saja dipadati wisatawan disetiap akhir pekan. Dan sumsel ? banyak sekali teman blogger yang menyatakan kekagumannya dengan keindahan panorama bukit tunjuk yang menjadi salah satu setting film Gending Sriwijaya. Dan mereka mengetahuinya dari film ! - Memajukan Perfilman Indonesia
Sampai kapan kita terus menjadi penonton ?. Indonesia memiliki potensi untuk menjadi besar. Dan saya percaya dengan kemampuan anak bangsa yang bisa menciptakan film-film bermutu.
Asalkan film digarap secara serius dan profesional, cerita kedaerahan tetap menjual untuk dijejalkan di industri hiburan. Keberhasilan Gending Sriwijaya merupakan langkah yang baik yang bisa ditiru pemerintah provinsi lain. Indonesia penuh dengan orang kreatif, dan kita layak maju untuk itu. Hanya saja perlu dicatat bersama, bahwa jangan pernah melibatkan unsur politis kedalam film. Cukuplah belajar dari sepakbola yang carutmarut karena terlalu banyak kepentingan politik yang bermain didalamnya. Bagaimanapun ini adalah industri kreatif yang melibatkan orang-orang kreatif, bukan orang-orang politik !



About



saya malah jarang nonton film di bioskop,,
ya tunggu aja sampai filmnya tayang di Tv..hhe
saia semu suka film selain horor terutama horor indonesia
sekarang sih pelem kita udah mulai variatif. ga cm cinta remaja dan esek2 horor.
terakhir nntn pelem indonesia di bioskop pas pelem “di timur matahari”
garapan alinea pictures yg bersetting di papua
bagus mnurutku
maju terus pelem indonesia
kunjungan pertama salam kenal
Duh,
sejak punya anak jadi jarang nonton bioskop nih Lies…
Soalnya gak ada yang jagain anak anak..hihihi..
*alesan gak berbobot*
Terakhir sih berhasil nonton 5 cm..setelah penuh perjuangan…hihihi..
oke lah lumayan…
Palingan nunggu pelm bioskop nongol di tipi aja deh *gak modal*
Gak ada analisis buat pertentangannya mbak?
Misal kasus Hanung sama orang minangnya …
film Indonesia yg bagus sampai saat ini memang adalah karyanya Hanung, pengambilan gambarnya bagus, walau kadang kalau bikin alur cerita suka kontroversial
film favorit saya sampai saat ini tetaplah Jomblo dan Catatan Akhir Sekolah, juga AADC yg legendaris itu
eh yg pasti tentu di luar semua kriteria apapun adalah film2nya kak Rhoma :”>
jadi teringat pilem pertama remaja yang aku tonton di bioskop: Ada apa dengan cinta
Kalo boleh menambahkan mungkin judul yg lebih tepat adalah “Wajah Perfilman Indonesia setelah tahun 2000″ karena jika menilik sejarah film Indonesia dari awalnya mungkin kita akan memiliki banyak pengetahuan baru.
Sayangnya sejarah bangsa ini banyak diwarnai dengan tanda tanya karena kepentingan beberapa pihak.
Usaha yang bagus salah satunya dilakukan oleh Misbach Yusa Birain dgn menulis buku “Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa”. Lewat buku itu mungkin generasi muda bisa sedikit punya gambaran tentang perjalanan film Indonesia. Menurut saya, versi singkatnya bisa kita lihat dalam film “Hugo” wlp itu tentang film di Eropa, namun nuansannya masih sama.
Sekian dan salam
Filmnya sangat seru yah…
Wah pasti rame banget nih yang nonton…
Sebagus apapun film Indonesia.. tetep saya lebih suka membuat desain kaos film luar negri.
Kalau filmnya Ariel+Luna Maya+ Cut Tari udah pernah nonton?Film itu salah satu yang paling populer di Indonesia lho
hehehe *ngibrit*
Nanti tanggal 28 Februari ada film thriller yang bagus loh Lies.. Judulnya Belenggu.. harus nonton bareng suami.. Jadi inget dulu kita nonton film horor dan teriakan kalian paling nyaring … wakakakakaka
Pencarian Bakat Juga Bisa…
Sudah jadi jaminan klo rumah produksi serta pemain filmnya siapa, saya selalu ingin datang ke bioskop karena lebih puas nontonnya, terutama film2 dari luar. James Bond gak pernah ketinggalan hohoho….
Ive been concluding lots about that for a long itme or it would be better try to compose utilizing a long period of time or find research paper help “exclusivepapers.com” place.
Wah, lagi ngereview film Indonesia mbak lies…
Berbicara film indonesia itu rasanya rame banget, ada film yang bagus banget, bagus, biasa saja, juelek, juelek banget, sampai ada yaang parah banget (sudah gak bermutu, jualan body doang dan gak ada jalan ceritanya sama sekali)..
Kadang gak habis pikir, gimana ceritanya film-film yang parah itu bisa layak tayang di bioskop. Kok bisa-bisanya bioskop nayangin film macam itu, dan lebih parah lagi, kok ya ada yang nonton ya
Tapi ya, itulah wajah perfilman nasional. Semoga kedepannya bisa bertambah baik lah (harapan klise)
berbicara tentang film, cara pandang tentu beda-beda dan itu sah-sah saja. Apapun jenis filmnya, bagi saya ini kemajuan yg luar biasa yg sudah seharusnya didukung oleh kita semua
The experienced thesis writing services should trade their dissertation publication close to this post, therefore, we detect the really reliable buy dissertation service and buy a thesis right there.
Academic papers writing is a cake walk for expert writing specialists who are working at essay writing service uk “qualityessays.co.uk”.