Bukan karena kemarin saya mengulas fashion blog, maka sekarang saya mengangkat fenomena barang palsu dan KW . Nggak nggak.., blog ini tidak mungkin menjadi fashion blog. Sampai dunia berakhir pun kayaknya take it easy ini tetap menjadi blog gado-gado tanpa kejelasan arah kemana blog akan berlabuh hihihi.

Sebelum melanjutkan, saya ingin tanya sesuatu, ada nggak siy diantara kalian ada yang anti barang palsu, kw dan juga bj ?

Kalau saya sih jujur saja nggak anti. Gimana coba mau bilang anti barang palsu ? lah dalam kesehariannya saya selalu menggunakan produk IT yang tidak original. Seperti notebook pribadi yang sedang saya pakai ini, sistem operasi yang digunakan adalah windows XP bajakan. Begitu juga dalam bekerja, notebook dikantor (hampir disemua perkantoran) menggunakan sistem operasi windows 7 bajakan. Lengkap dengan aplikasi office yang juga bajakan ! Jadi sangat nggak sadar diri kalau saya bilang anti barang palsu.

software bajakanTapi sayangnya banyak pengguna komputer di Indonesia ini yang tidak faham bahwa software yang dipakai adalah software bajakan. PC yang ada diruangan kantor saya baru-baru ini muncul peringatan windows genuine. Ketahuan sama microsoft kalo produknya palsu. hihi tapi teteup ada 1001 jalan untuk menyempurnakan sistem bajakan. piss ya om microsoft, bisa kacau pekerjaan se-indonesia raya ini tanpa software bajakan.

Oke, balik lagi ke topik permasalahan tentang fenomena barang palsu, KW dan juga BJ. fyi, BJ itu barang bekas. Di Sumatera, sebutan bj itu awal katanya dari barang jambi. Barang BJ biasanya terdiri dari barang fashion dan bed sheet yang di import dari china, korea, dan hongkong.

Kalau barang palsu dan kw saya yakin ada dimana-mana. Bahkan di mall-mall besar pun banyak yang menjual produk KW. Sayangnya banyak dari kita yang salah kaprah dalam menyebut barang palsu dan KW. Sebagai contoh, penjual tas branded KW menyebutnya dengan “hermes KW1″, “LV KW2″, dll. Padahal yang berhak mengeluarkan barang-barang yang disebut kw itu jika barang tersebut diproduksi oleh produsen aslinya. Semisal, ada produk sebuah brand yang cacat produksi, boleh jadi produk tersebut tetap dijual dipasaran dengan menyebutnya kualitas KW. (tetapi sangat jarang ada barang branded cacat produksi dipasarkan. biasanya dimusnahkan).

Nah sementara barang-barang branded KW yang dijual dipasaran saat ini adalah barang palsu yang dibuat oleh pihak lain. Dengan semena-mena mereka membuat kelas tersendiri, kw super, kw semi super, kw1, kw2, dan seterusnya. Seharusnya mereka menyebutkan kata palsu didalamnya. Dan barang yang djijual pun seharusnya menjadi “hermes palsu kw1″, “hermes palsu semi super”, dll. Ini baru benar, karena yang membuat barang-barang tersebut bukanlah pemilik merk tersebut. Melainkan barang-barang yang dibuat di china, thailand, dan sebagainya. Karena ketiadaan standard palsu kw, akhirnya konsumen pun tidak bisa memilah dengan jeli mana yang disebut kw1, mana yang kw2, semua dipercayakan kepada penjual.

3776b6809d9aa2934bedc657fa194707_cunterfeit

Itu tadi ulasan kw yang sering menyesatkan konsumen. Sekarang kita bicara keuntungan dan kerugian. Untuk barang BJ jelas keberadaannya menguntungkan dinilai dari segi ekonomis. Barang bj ini tidak hanya diminati oleh kalangan ekonomi rendah, kaum ekonomi menengah pun banyak yang berburu barang bj. Dan jika ditelaah dari sisi kerugian, saya rasa tidak ada yang dirugikan dalam hal ini, kecuali para pedagang fesyen produk china yang merasa omsetnya turun sejak barang bj menyerbu pasar.

Sementara untuk barang palsu dan palsu kw, kalau kita mau jujur, barang kw dan palsu jelas tidak menguntungkan. Bahkan menyebabkan banyak kerugian, diantaranya *menurut pendapat pribadi* :

  • Merugikan pihak produsen
    Walaupun para produsen ini sudah dilindungi oleh Hak Cipta, tapi tetap saja tidak membuat gentar para pelaku bajakan
  • Merugikan konsumen Asli yang Fanatik
    Ada beberapa jenis kerugian konsumen, yang pertama konsumen yang memang fanatik dengan brand tertentu. Mereka rela menggelontorkan banyak uang demi mendapatkan produk tertentu yang harusnya eksklusif. Tetapi dengan banyaknya pemalsuan, barang yang seharusnya eksklusive itu menjadi teramat pasaran. Dari kawasan elite hingga lorong-lorong pasar sempit mudah ditemui barang serupa tapi tak sama.
  • Merugikan konsumen KW
    Konsumen yang jenis ini adalah yang tidak mengetahui jenis-jenis KW. Penjual dengan mudah menyebut barang ori, barang replika, barang super, semi super, kw1, kw2 dan seterusnya. Jika penjualnya nakal, barang semi super bisa saja dijual dengan harga kw super. Nggak ngerti juga kan bedanya ?. Ada lagi jenis konsumen dari kaum menengah yang mengira bahwa barang kw yang dibeli merupakan barang asli. Saya pernah baca dikoran, tentang ibu-ibu yang antusias bisa membeli barang asli di sebuah mall. Ceritanya ia membeli tas LV seharga 1,5 juta. heloooo…. LV buatan mana itu yang menjual barangnya seharga 1 1/2 juta ? lagipula belum ada toko resmi LV dikota tersebut.
  • Merusak kreatifitas Berkarya
    Para pencipta barang-barang palsu dan palsu kw ini pastinya punya banyak modal dan bakat dalam menjalani bisnis. Sayangnya jalur yang dipilih jalur pintas. Dengan terus menerus menciptakan barang palsu, hanya akan membunuh kreatifitas berkarya. Tapi apa daya, pasar pun meresponnya dengan baik. Sesuai hukum ekonomi, banyak permintaan berpengaruh ke banyaknya penawaran.
  • Merusak kreatifitas Pemakai
    Seperti halnya penggunaan aplikasi komputer bajakan yang sebenarnya hanya membuat kita semakin bodoh dan tidak kreatif. Padahal banyak sekali aplikasi opensource yang bisa digunakan secara gratis (dan halal). Begitu juga dalam soal fashion, bukankah masih banyak barang-barang bagus unbranded yang beredar dipasaran, baik lokal maupun import. Untuk tampil keren toh tidak harus bermerk, asal pintar padu padan akan tetap terlihat manis. Memang sih tidak semua pembeli barang branded palsu kw yang bertujuan untuk “tampil gaya”, ada juga yang membelinya karena kebutuhan. Saya contohnya, pernah membeli hermes palsu kw karena kebutuhan untuk bekerja.Jika pun ada kesempatan untuk datang ke acara-acara berkelas, tentu saya tidak berani menenteng tas tersebut ditengah-tengah orang yang tampil glamour dengan barang asli. ouch sama aja bunuh diri.
  • Merusak mental Bangsa
    Dan ini yang paling berat. Beredarnya barang-barang palsu serta palsu kw tanpa kita sadari membuat kita semakin jauh dari penghargaan akan sebuah karya dan hak cipta. Pembajakan seolah menjadi budaya yang biasa untuk sama-sama dimaklumi. Kita tidak menikmati efeknya mungkin karena bukan kita yang punya brand tersebut. Padahal ya, kalau ada hal sepele saja yang merugikan kita, langsung kita beraksi keras. Hal sederhana deh, kalau ada blogger lain yang menjiplak tulisan kita, langsung kita protes sana sini

Semoga saja ya, dengan semakin majunya pendidikan dan juga seiring negara kita yang terus berbenah untuk maju, mudah-mudahan semua pihak semakin menyadari pentingnya penghargaan akan sebuah karya. Dan saya berharap, pengadaan komputer dikantor nanti akan disertai juga pembelian software yang asli.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?




21 Comments to “Fenomena Barang Palsu, Barang KW, dan BJ”

  1.   taufiq | January 28th, 2013 at 13:02

    huiiiii….diii dah post dluan mb, keren tu mb.. ntar liat punya ane ya 3:)

  2.   Anton | January 28th, 2013 at 13:11

    baru ngehhh klo bnyk disekitar kita yg salah kaprah ato jangan2 udah tau salah tapi ttp nekad; brg palsu ngakunya KW ……

  3.   somia | January 28th, 2013 at 13:23

    wah harus lebih berhati2

  4.   rina | January 28th, 2013 at 13:32

    waduuu… harus lebih teliti yaa

  5.   easy | January 28th, 2013 at 15:26

    @rina, menurut saya sih mbak :) @somia, semestinya gitu
    @anton, maybe udah tau dan ga peduli. yg penting menguntungkan hihihi
    @taufiq, sip sip, aku tunggu !

  6.   orange float | January 28th, 2013 at 16:45

    di Jambi barang-barang BJ adalah produk yang berasal dari luar dan dijual dengan harga miring bahkan ada beberapa penjual barang-barang ini dipacking seolah baru biar harganya bisa lebih tinggi. sebagai konsumen kitanya yang mesti pintar, jika ada barang bagus dan harganya murah gak salahnya dibeli dan ternyata peminatnya banyak

  7.   easy | January 28th, 2013 at 16:46

    @orange, oh jadi dikemas lagi ga dijual kusut masai gitu ya. disini bj dihampar-hamparin gitu aja dipasar.

  8.   Bibi Titi Teliti | January 28th, 2013 at 18:08

    Lies…
    Kalo barang KW sepertinya aku gak pernah tertarik beli yah…soalnya barangku emang gak ada merk nya semuaaaa…hihihi…

    Paling harus aku akui, hanya satu yang membuatku belum sangup move on dari KW…

    Beli DVD Drama Korea bajakan termasuk gak sih?…hihihi…
    mohon dimaapkan untuk yang satu itu yah,,,hihihi…

  9.   Ummu El Nurien | January 28th, 2013 at 19:20

    ^-^.. untuk fesyen, aku tak begitu merhatiin asli apa palsu.. karena aku beli berdasarkan rasa suka dan kualitas dan harganya dapat ku jangkau..
    masalah karya..misalnya dvd, biasanya cuma beli film animasi untuk anak2, jujur kadang merasa bersalah beli yang bajakan, mengingat jerih payah tim kreatif mereka,, namun yang asli untuk menengah kebawah harganya sulit di jangkau,,
    tapi bagaimana pun, setiap jalan ada tantangan. produsen atau pun pemilik karya harus terus maju, dan berupaya keras menghadapi setiap tantangan.
    bagaimana pun kualitas yang asli mau pun tiruan tetaplah berbeda..

  10.   easy | January 28th, 2013 at 20:11

    @bibi titi teliti ; hahahaha… semua yang berbau bajakan tetep aja bajakan. ah tapi aku juga ga bisa dipisahkan dari barang2 bajakan :’(
    @ummu ; yup. kualitas ga bisa bohong ya mbak

  11.   adeuny | January 28th, 2013 at 20:14

    iyah… sepertinya kesan kw itu dimana2 gitu… menyedihkan
    bj itu bjakan toh… tadi tag kira angkutan kota balogsari jmp :D

  12.   easy | January 28th, 2013 at 21:06

    @adeuny, bukan dear,,, bj itu barang bekas.
    kalo kw mah dimana2 ada ya hihi

  13.   Nella | January 28th, 2013 at 23:41

    Kalau ditempatku sini ga boleh pakai barang bajakan karena kalau ketauan urusannya bisa ke polisi, dan memang barang bajakan tidak tersedia seperti pada umumnya di kaki 5 di Indonesia.

  14.   bebe | January 29th, 2013 at 01:03

    hampir mirip sama Nella. Kalau untuk urusan baju/aksesoris/tas bisa dibilang ga ada yang KW. Soalnya disini ketat banget aturannya.

  15.   easy | January 29th, 2013 at 10:00

    @nella ; mustinya memang gitu ya. harus menghargai karya orang lain.
    @ebe ; di indonesia entah kapan bisa spt itu

  16.   indobrad (kopimana.com) | January 29th, 2013 at 10:13

    memang kita belum bisa lepas dari barang bajakan. tapi tetap perilakunya harus diubah pelan-pelan, mulai dari menggunakan produk2 open source. kalo gak dari kita sekarang, kapan lagi? :)

  17.   Ceritaeka | January 29th, 2013 at 10:24

    Aku berusahaaa banget gak pakai bajakan :) kalau gak mampu ya sudahlah… Semoga bisa tetep konsisten

  18.   dissertation | February 6th, 2013 at 01:32

    The best buy thesis is yearned-for by all people in the world but in academic life I demand the dissertation service or just dissertation international just about this post.

  19.   research papers buy | February 7th, 2013 at 18:06

    Are you hunting for first-class service where to order academic essays? Visit this website “essaysexperts.com” and true professionals will provide you with good college essay writing help in order to make your life simpler.

  20.   joogja circles | February 8th, 2013 at 18:02

    Untung udara yang kita hirup ga ada yang KW alias palsu…

  21.   amalia | April 4th, 2013 at 10:02

    Saya sendiri kalo buat software2 gitu baru akan beli yang asli untuk yang memang bener2 perlu dan penting, secara masih mahal2 gitu. Kalo masih belum mampu beli ya biasanya pake yang opensource hehehe.

    Kalo untuk pakaian, tas, sepatu dll saya ga terlalu mentingin brandnya apa, tapi saya usahakan untuk tetap beli yang asli dan kalo ngerasa kemahalan banget ya berarti saya belum mampu, ga pernah maksain. Jadi karena belum sanggup beli tas Hermes yang asli (dan mahal banget) itu, ya saya belinya tas Elizabeth aja hehe :)

Leave a Comment