Masih saja saya menemukan tulisan kasar yang dipajang ditempat-tempat umum seperti tulisan “babi dilarang parkir” yang pernah saya potret dan publish di blog. Seolah seperti sudah membudaya, kali ini giliran anjing yang kebagian pamor. Sudah lama saya ingin memotret fenomena ini, tetapi karena selalu saja lupa hingga berbulan lamanya dan baru sempat siang tadi sepulang kantor untuk mengambil gambarnya. Tulisannya mulai pudar terkena panas dan hujan. Butuh beberapa bulan lagi mungkin untuk membuat tulisan tersebut benar-benar tidak terbaca. Pengambilan gambarnya kurang pas karena diburu cuaca, itu kalimat lengkapnya adalah “ANJING YANG BUANG (sampah) DILUAR“. Tulisan tersebut ada di bagian depan kotak sampah besar seukuran 2×2×1 meter yang ada digerbang depan perumahan tempat saya tinggal sekarang.

sampah

Senada dengan “babi dilarang parkir” yang jengah terhadap mobil-mobil yang parkir sesukanya didepan jalan untuk keluar masuk kendaraan, “anjing yang buang diluar” inipun dibuat orang akibat kekesalan yang mendalam dan jengkel yang tiada tara terhadap orang-orang yang membuang sampah sembarangan diluar TPS. Padahal sudah disediakan tempat sampah segede gaban, tapi masih saja banyak sampah yang berserakan menjijikkan diluar “kotak” tersebut.

Saya tidak suka memang dengan tulisan kasar dan tidak mendidik seperti diatas, tapi saya bisa mengerti alasan munculnya tulisan tersebut. Paling sulit memang mengatur manusia, bahkan untuk hal sepele semacam adat atau cara membuang sampah. Jujur saja, saya pernah beberapa kali ikut membuang sampah diluar kotaknya. Tapi sumpah! saya melakukan itu bukan karena kesengajaan, melainkan terpaksa harus begitu karena sudah terlalu banyak sampah diluar kotak sehingga untuk berjalan mendekati kotak rasanya tidak mungkin. Hingga akhirnya saya ikut meletakkannya diluar. terimakasih yang sebesar-besarnya untuk Bapak-bapak pengangkut sampah dengan truk kuningnya yang saban pagi selalu bekerja mengambil semua sampah di TPS, didalam maupun diluar kotak.

Berbicara mengenai sampah, saya jadi teringat pernah melihat pedagang bakso yang dengan entengnya membuang jeruk sisa bakso dengan cara melemparkannya ke jalan raya. Bukan hanya satu, ada 5 atau 6 buah jeruk habis pakai yang ia lemparkan sekaligus. Bapak itu tentulah tidak buta dan bisa dengan jelas memastikan bahwa ruas jalan yang ada didepan matanya itu bukanlah tong sampah. Atau bisa jadi saat itu ia berfikir jeruk-jeruk tersebut akan habis kelindes motor atau mobil yang lewat ?

Lain waktu pernah ada seorang Ibu berjualan berkeliling dikawasan perumahan tempat saya tinggal untuk menjajakan ikan segar yang masih hidup yang dibawanya dalam sebuah ember. Saya memanggilnya dan memilih 1 kg ikan ukuran sedang, untuk kemudian meminta si Ibu agar membersihkan insang dan sisik ikan. Dengan cekatan si Ibu membersihkan ikan-ikan tersebut. Setelah selesai ikan-ikan tersebut ia masukkan kedalam plastik sementara sisa insang dan sisik ikan ia jatuhkan ke selokan kering didepan rumah.

“sebentar bu..”, saya masuk kedalam rumah, mengambil satu kantong asoy dan memberikannya ke Ibu, “sampahnya masukin kesini aja”

Untung selokannya hanya selokan kecil yang dangkal dan kering. Mudah saja Ibu itu mengambil kembali sampah ikan dan memasukkannya ke plastik yang saya berikan. Mungkin saja Ibu itu sengaja membuang sampah ikan ke selokan dengan harapan ada kucing yang akan menjamah sampah tersebut. atau bisa jadi Beliau berfikir sampah-sampah itu toh akan musnah oleh bakteri pengurai dalam beberapa hari.

Seperti kejadian-kejadian nyata diatas, acapkali kita menganggap enteng terhadap sampah-sampah kecil yang kita buang, bungkus permen, kertas tisue, cabe bekas gorengan, kita selalu menganggap enteng sampah-sampah tersebut. Kita selalu berfikir “aih sampah dikit ini..”

Kita lantas lupa, saya juga mungkin lupa, bahwa banyak kota/kabupaten di Indonesia ini yang merupakan Kota Adipura. Adipura berarti kota yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan. Dan Pemerintah berjuang untuk itu!. Berusaha sekuat tenaga menghijaukan kota, mencanangkan banyak program demi meraih penghargaan Adpura. Lalu apa balasan masyarakat ?

Banjir datang pemerintah yang disalahkan. Sampah berserakan pemerintah yang dianggap nggak peduli. Kota rusak lagi-lagi pemerintah yang disalahkan.

Padahal kita sendirilah yang salah dan tidak peduli dengan lingkungan. Yang perlu kita lakukan sebenarnya sangat sepele, yaitu tidak membuang sampah sembarangan. Hanya itu. Urusan keindahan taman, membersihkan jalan umum, merawat pohon-pohon kota, membangun TPS/TPA, mengeruk sungai dan lainnya bisa kita serahkan ke Pemerintah. Kita sudah dimudahkan oleh pasukan sapu jagad yang saban hari membersihkan areal umum. Tanpa bantuan mereka mungkin bumi yang kita pijak ini carut marut oleh sampah.

Perkara sampah ini pun seperti sudah menjadi warisan turun temurun sejak jaman Soeharto hingga SBY. Walaupun kampanye “jangan membuang sampah sembarangan” ini nggak henti disosialisasikan, namun pada kenyataannya slogan tersebut hanya sebatas slogan. Fakta yang ada dilapangan jauh dari harapan. Sebagian besar masyarakat masih saja nggak sadar akan pentingnya membuang sampah hanya pada tempatnya.

Sering saya menemukan sampah tak dikenal yang tercecer dijalan depan rumah, ada bungkusan chiki, Plastik Aqua, karung bekas semen, bungkus rokok gudang garam, botol mizone, pampers bekas yang terbawa air hujan, dan banyak lagi. Bahkan dipagar samping rumah ada peti bekas minuman yang tergeletak sekenanya. Dan saya nggak kenal siapa pemilik sah sampah-sampah tersebut. Andai sampah bisa bicara, pasti sudah saya kembalikan sampah tersebut ke pemiliknya. Atau justru saya yang akan menerima banyak pengembalian sampah ? :P

Kita akui sajalah dosa-dosa kita yang masih sering membuang sampah sembarangan. Saya juga mengakui beberapa kali saya pernah khilaf membuang sampah berupa bungkus kacang yang saya buang dari kaca mobil saat melintas keluar kota menggunakan travel. Dan baru-baru ini saya membuang sampah kulit kacang (iyaaaa ini memang kesalahan yang sangat memalukan) di stadion gelora sriwijaya saat menyaksikan pertandingan sfc vs persiba. Kali ini diiringi delikan mata suami yang berarti sangat tidak setuju dengan kelakuan saya, ia bahkan menyimpan sampah makanan kami di plastik dan tidak membuangnya sembarangan. suka deh dengan caranya sayang… *deep kiss*

Sejak kecil kita dididik oleh Guru untuk tidak membuang sampah sembarangan. Bahkan sampai saya duduk di dunia kerja pun masih saja dididik untuk membuang sampah dengan benar sesuai jenisnya, Organik dan anOrganik. Jujur saya akui, lagi-lagi saya masih melakukan kesalahan, seringkali (tepatnya selalu) saya lupa untuk memisahkan mana organik dan mana anorganik :mrgreen: uhm.. tapi minimal saya sudah membuang sampah pada tempatnya #pembenaran.

Postingan ini saya buat bukan saja untuk mengingatkan orang lain dalam mengelola sampah, melainkan untuk lebih mengingatkan saya pribadi agar selalu membuang sampah hanya pada tempatnya. Sekaligus ikut mendukung program Pemerintah dalam mencanangkan budaya Adipura, karena sejatinya Adipura bukanlah sebatas piala yang diperebutkan, Adipura berarti upaya membangun budaya masyarakatnya untuk menerapkan hidup bersih. Jadi, kenapa kita tidak membuat resolusi untuk berani tidak membuang sampah sembarangan, sekecil apapun sampah tersebut. Demi Indonesia yang lebih sehat :)


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?




26 Comments to “Sampah Liar atau Manusianya Yang Liar”

  1.   idana | January 8th, 2013 at 20:54

    bener,diakui atau tidak keknya semua orang pernah melakukan kesalahan satu ini yaitu buang sampah sembarangan. aku juga sering *malusendiri. tapi lebih seringlah buang sampah pada tempatnyaa hehe mulai pembelaan :P

  2.   easy | January 8th, 2013 at 21:26

    @idana, hahaha… mulai kita kurangi yuk dari sekarang kelakuan kita yang salah.. :)

  3.   Zizy Damanik | January 8th, 2013 at 22:40

    Meningkatkan kesadaran memang tak mudah di Indonesia ini. Masa iya harus kasih punishment terus. Sama sih dengan di jalan-jalan sini, sering lihat orang seenaknya buang plastik sampah dari atas jembatan.

  4.   Goiq | January 8th, 2013 at 23:07

    susah memang mengatur perilaku.. Kalo aku suka kesal melihat pengguna mobil yang suka buang sampah mereka kejalan saat mobil sedang melaju. Beli mobil sanggup beli kotak sampah buat dimobil kok ngga mampu ?

  5.   Pencerah | January 8th, 2013 at 23:40

    bapak2 yang suka nangkut sampah dari TPS itu namanya bukan tukang sampah, tapi tukang bersih-bersih

    yang suka buang sanmpah itu yang namanya tukang sampah

    sudah diupdate bang. thanks koreksinya ya

  6.   Pencerah | January 8th, 2013 at 23:41

    setelah komplain lewat fasbuk, akhirtnya bisa komeng lagi hahahaha

  7.   Devry | January 8th, 2013 at 23:56

    Kurangnya kesadaran diri… And so? :P

  8.   Devry | January 8th, 2013 at 23:57

    Kurangnya kesadaran diri… And so? :p

  9.   kankan | January 9th, 2013 at 08:36

    emang permasalahan sampah tidak kunjung usai apa lagi di kota jakarta ssh sekali pemerintah mengatasi maslah samapah karena manusia ssh untuk tidak buang sampah sembarangan

  10.   Anton | January 9th, 2013 at 09:02

    bener bgt mbak…sampah memang menjadi permasalahan yang sgt ciyuss. ini cerita pengalaman di kompleks-ku, kebetulan msh ada kav.yg kosong, eh sm warga diluar komplek mlh dijadikan TPA pdhl kita (org kompleks) aja buang di TPA resmi (disekitar kompleks blm ada TPA dan tdk ada yg mau direkrut jd pasukan sapu jagat krn medan yg naik turun…) pas di ingetin, mata mlh mendelik, ya udah dehhh…

  11.   molan | January 9th, 2013 at 11:01

    lebih banyak manusia yg punya prilaku jorok dibanding yang sudah sadar. tp memang terkadang suka jengkel kl mau buang sampah ketika di tempat umum tapi tempat sampah nya tidak ada…..

  12.   hendrawan | January 9th, 2013 at 11:47

    Tulisan yang menarik…..saya juga baru mencoba untuk itu…yah untuk saat ini baru diri sendiri aja sebagai pelaksana….cuman untuk memisahkan organik dan non organik masih belum….krn keterbatasan tempat *cuman alasan pembenaran xixixixi……tapi udah masuk dlm resolusi 2013…akan aku taruh 2kotak sampah didepan rumah dgn tulisan guede…..yah paling tidak yg baca sadar untuk mengikuti hal tsb…..mengajak masyarakat secara tidak langsung paling tidak….

    Salam
    hendrawan

  13.   adi | January 9th, 2013 at 11:51

    manusia memang liar, nice post sist. ijin share via facebook :)

  14.   husinpeng | January 9th, 2013 at 12:25

    begitulah manusia,kita tidak mengatur,tidak bisa memaksakan supaya betindak dan berbicara sesuai dengan keinginan kita.Dalam konteks ini adalah aturan buang sampah pada tempatnya. Untung jua,saya sendiri tidak terlalu buruk dalam hal ini, ( masih ada kesalahan kesalahan kecil deh ), selalu menyediakan kantongan dimobil untuk sampah bekas cemilan dan lainnuya,belajar dan selalu simpan sampah hingga menemukan tempat pembuangan.Membuang sampah ditempatnya di tempat umum,walaupun ada pasukan bersih-bersih.

    Karena menurut saya,untuk bisa melakukan hal-hal besar lainnya harus dimulai dari melakukan hal-hal kecil dari dalam diri kita dulu.Termasuk disiplin aturan buang sampah.

    With Love,

     Husinpeng.blogdetik.com
    —semoga semua mahluk hidup berbahagia—

  15.   anny | January 9th, 2013 at 13:11

    Orang cuma ingin mudahnya aja buang bekas segala konsumsinya pribadi itu tanpa mikirin dampaknya. Masalah klasik.
    Tetapi jangan sampai di sepelekan. Mulai dari diri sendiri, aku suka keep dulu dalam tas jika ada sesuatu yg harus dibuang ketika dijalanan, setelah ada tong sampah baru dibuang.

  16.   nasphie | January 9th, 2013 at 13:36

    iya,,,kesadaran dari kitanya juga yang harus ditingkatkan…

  17.   putri | January 9th, 2013 at 14:09

    Baiknya MUI buat fatwa HARAM utk buang sampah sembarangan apalagi yg dibuang ke sungai. Sampah di sungai = banjir, penyakit & kerugian material lainnya…

  18.   muchisha | January 9th, 2013 at 18:19

    sampah…. masalah klasik, tapi ga beres-beres. menyedihkan melihat budaya sebagian besar masyarakat Indonesia yang sering buang sampah sembarangan. gemeesss banget rasanya.. semoga lambat laun masyarakat Indonesia sadar untuk senantiasa membuang sampah pd tempatnya.

    * mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulailah saat ini…

  19.   Tia Seksi | January 9th, 2013 at 19:21

    itumah manusianya yang liar , susah sadar diri

  20.   Aa Pratama | January 9th, 2013 at 21:03

    wajarlah om/tante kalo sering ada tulisan macem kayak gitu,karena kayaknya emang kebiasaan masyarakat kita yang “berkuping tebal”

  21.   Guru Go!Blog | January 10th, 2013 at 01:05

    saya yakin, liarnya sampah karena manusianya berperilaku liar

  22.   anto | January 10th, 2013 at 01:10

    sebenarnya manusianya yang ngawur, kalau mau agak tertib sedikit musibah banjir bisa diminimalkan …..

  23.   Aneka Berita | January 10th, 2013 at 01:11

    sebenarnya sudah PADA TAHU, HANYA TIDAK MAU MEMBIASAKAN BUANG SAMPAH DI TEMPATNYA.

  24.   berandadunia | January 10th, 2013 at 08:01

    yuk kita jaga sama-sama lingkungan hidup kita. :D
    http://berandadunia.blogdetik.com/2012/12/30/bank-mandiri-pilihan-tepat-untuk-tabunganku/

  25.   Harry Sasongko | January 10th, 2013 at 11:43

    Semua Balik Pada masing2 orangnya…

  26.   mayangnoestra | January 11th, 2013 at 00:44

    Ayo kita bangun kesadaran untuk hidup bersih, dari hal yang sepele (bisa jadi bukan hal sepele) yaitu buang sampah pada tempatnya.

Leave a Comment