Pina

True Story October 14th, 2008

Dulu, sewaktu kakak ipar saya bercerita tentang seorang ketua adat dari pedalaman irian yang terkagum-kagum saat berada di kota laknat jakarta, saya masih 1/2 tak percaya. Si Ketua Adat itu katanya sangat takjub melihat gedung bertingkat-tingkat, takjub saat naik lift, takjub saat naik mobil sedan *taxi*, takjub saat berada dikamar hotel berbintang lengkap dengan fasilitas canggihnya, takjub juga dengan lantai marmer di tempat-tempat mewah yang mengkilat bin kinclong. waktu itu saya hanya berfikir, ah masa’ sih dijaman sekarang masih ada orang sekuno itu?..

Awalnya saya memang tak percaya, sampai akhirnya saya mengenal Pina. Cewek dengan tinggi sedang namun bodynya tegap berisi, berkulit hitam kelam, rambut pendek keriting stadium 4, lengkap dengan jemari kakinya yang mekar-mekar. Dia adalah produk asli pedalaman Irian. Dengan berbekal finansial pas-pasan ia merantau ke Jogja naik kapal laut demi meneruskan cita-citanya untuk bersekolah.

Diawal saya mengenalnya betapa sering ia membuat saya terkaget-kaget dengan “kekagetan” yang diciptakan olehnya sendiri. Jangankan lihat AC, saat lihat kipas angin saja dia ketakutan. Setengah berteriak ia minta matikan kipas angin tersebut. Baginya sangatlah aneh ada benda mati yang bisa berputar-putar sendiri. Begitu banyak kejadian lucu lain yang Pina ciptakan atas ketakjubannya dengan teknologi yang tak pernah ia temukan di “rimba”nya.

Lalu bagian yang paling merepotkan adalah ketika ia sakit. Bukan repot dalam artian merawatnya, namun repot karena ia minta disediakan “singkong“. Ya, singkong atawa ubi kayu. Saat sakit ia hanya mau makan itu saja. Hanya singkong. aneh juga 4 . Kadang membuat saya tidak tega melihatnya, namun ya memang singkong-lah yang membuat Pina bisa sembuh.

Itulah Pina, walau ia berbadan tegap tapi ia adalah cewek yang pendiam.

Pina pernah bercerita bahwa ia adalah kembang desa di dusunnya *dan saya sangat percaya itu*, ia cerita betapa sering ia dilamar oleh orang-orang dari sukunya, namun ia ingin bersekolah. Ia bertekad ingin berpendidikan. Saya salut dengan Pina. Ia yang selalu memanggil saya “kakak” ini adalah pribadi yang sangat gemar membantu.

Namun sayangnya Pina tak pernah bisa menyelesaikan kuliah Akademinya (di ASMI Santa Maria Jogja). Di semester 4 ia terkatung-katung tak pernah dikirimin uang. Kabar yang berhembus dari kampung halaman adalah Bapaknya sudah menikah lagi. Otomatis sejak itu hidup Pina menjadi tak jelas, saya dan bererapa teman tentu tak membiarkan ia sendirian. Berpatungan kami saling bahu membahu membantu Pina. Ia tak segan membantu mencuci pakaian, menyetrika, dan berbagai pekerjaan lainnya.

Sampai akhirnya setelah 1/2 tahun hidup tak menentu, Pina minta pulang ke Irian. Ia sudah tak kuat. Dengan sebisanya kamipun membekali Pina uang untuk bisa ke Surabaya lalu melanjutkan naik kapal ke Irian. Saya ingat betul malam terakhir saat melepasnya pergi. Ia tak banyak bersuara. hanya sibuk membungkus semua benda yang dimilikinya, termasuk kasur busa yang sudah kempis tak berbentukpun dilipatnya sekecil mungkin dan dimasukkannya juga kedalam koper jadul (koper yang segede gajah tanpa roda -red).

*hhhhf.. saya sedih mengenang bagian dari kisah ini..*

Setelah malam itu tak ada berita yang kami dapat. Hanya bisa berdoa semoga Pina selamat sampai tujuan. Ia sungguh perempuan yang tangguh.

———————————————————

Pasca kejadian “Pina”, ada banyak pertanyaan yang memenuhi rongga kepala. Kemana saja pembangunan bangsa kita selama ini ? Kemana saja pajak-pajak rakyat yang katanya digunakan untuk pembangunan ? Kemana saja uang hasil “eksploitasi” bumi irian kalau ternyata masih banyak penduduknya yang bertaraf hidup miskin ? Kemana saja sistem pendidikan kita selama ini? … KEMANA ??? KE MA NA ? Harus ada berapa banyak lagi perempuan seperti PINA untuk bangsa ini korbankan ?

#akhirnya saya hanya bisa bersyukur dapat mengenyam pendidikan dan bisa bekerja di tanah air Indonesia yang maha kaya ini#





65 Comments to “Pina”

  1.   AriefDj™ | October 14th, 2008 at 08:19

    wah.. sayang ya.. semangatnya itu kurang panjang.. meski hidup mungkin baginya hanyalah sekedar menunda kekalahan sebelum akhirnya menyerah, tapi mbok yo jangan secepat itu.. ahh.. sayang sekali ya..

    masalah ‘pemerataan’ pendidikan dan kesejahteraan, itu memang masih merupakan masalah besar di negeri ini.. PR yang panjang dan melelahkan utk menyelasaikannya..

    kalau kita berada di posisi Pina, bisa jadi kita gak setegar dia Kang.
    Dengan tetap bertahan 1/2 tahun aja itu udah suatu hal yang sangat berat pastinya untuk dia lewati

  2.   azlankadir | October 14th, 2008 at 08:25

    Pina pribadi yang langka….pribadi yang tak semua orang memilikinya, dia lebih mengutamakan cita-cita walau berbekal finansial yg pas-pas Pina merantau dari kampungnya Pedalaman Iriannya menuju Jogjakarta kota pendidikan itu…salut…yang pada akhirnya Pina tidak bisa menyelesaikan kuliah Akademinya karena biaya pendidikannya Nol lalu pulang…sedih…..

    mungkin banyak yang bernasip sama seperti Pina…
    menjawab pertanyaan esay kemana saja? tentunya telah di KO RO P SI…………..

    iya Bang. tentu banyak perempuan-perempuan lain yang juga bernasib sama. Mereka tak sempat mengenyam pendidikan di negeri kaya ini :(

  3.   mohamad handy | October 14th, 2008 at 08:32

    pernah nyoba nggak dicariin beasiswa untuk anak desa tak punya kemampuan namun cukup punya semangat untuk merubah diri

    saat tu terasa berat. kalaupun ada beasiswa, biaya itu hanya cukup utk bayar uang kuliah..

  4.   Kaka | October 14th, 2008 at 08:45

    Pemerintah terutama pak Mentri yang barkaitan dengan desa tertinggal harusnya nengok blognya mba easy ini barang kali terinspirasi untuk memajukan lokasi-lakasi lain selain kejadian pina ini.. sebenarnya banyak sekali seperti kejadian - kejadian yang hampir persis sama yang di alami pina.
    http://www.asephd.co.cc

    semoga saja seiring waktu tak ada lagi nasib buruk yang menimpa Anak Bangsa ini dalam mengejar pendidikan

  5.   anty | October 14th, 2008 at 09:08

    Disini (papua) ada banyak pelajar/mahasiswa yang memiliki nasib seperti pina. punya ke inginan kuat untuk trus maju dan sekolah tapi keterbatasan ekonomi. Dan sekarang disini…sy bisa langsung menyaksikan kalau ternyata cerita yang pernah sy dengar nyata. Otsus…ternyata tidak menjawab kondisi yang ada…..

    Hem…untungnya dimnkwri sudah jadi ibukota provensi, jadi fasilitas yang ada sudah memadai. Irian sudah berubah nama jadi papua, yang terbagi dalam 2 provinsi, papua yg ibukotanya jayapura dan papua barat yang ibukotanya Manokwari.
    :) :).

    saya belum pernah ke manokwari, hanya sering dengar cerita tentang kehidupan di manokwari dari kakak ipar saya.

  6.   anny | October 14th, 2008 at 09:09

    Bumi Cendrawasih adalah bumi yang kaya sumber alamnya dan kebudayaan yang eksotis, Mudah mudahan pemerintah bisa lebih fokus untuk Irian Jaya kita yang kaya raya agar bisa lebih maju dan bermanfaat dan rakyatnya bisa lebih mapan.
    Tentang Pina, Jadi ingat tahun 1995 di Bandung pada ramai ramai mengadopsi anak anak irian, awalnya dikasih makan nasi sama lauk yg sehari hari biasa kita makan gak mau, dikasih jajanan gak mau, apalagi disuruh sikat gigi odolnya malah dimakan he..he..he…pada bingung semua karena anak anak itu mogok makan ternyata setelah dikasih singkong rebus mereka makan banyak sekali :)

    memang agak sulit bagi mereka untuk mengubah budaya ya mbak :)

  7.   tukang_atm | October 14th, 2008 at 10:10

    wah komenya panjang2 ya.kayanya posting yang serius nih.
    *baca posting dulu*

    ini serius :D

  8.   okta sihotang | October 14th, 2008 at 10:25

    pina itukan nama temen gw liez !! ;)

    yoha. salam ya untuk Pina-nya okta

  9.   Biru | October 14th, 2008 at 10:29

    aQ senang hari ini banyak yang posting tentang kepeduliannya pada orang lain..
    melihat mereka yang kurang ‘beruntung’ dibanding kita.
    ternyata Blogers di detik ini tidak hanya sibuk dengan dirinya sendiri.
    ‘Kemana saja pajak-pajak rakyat yang katanya digunakan untuk pembangunan ? Kemana saja uang hasil “eksploitasi” bumi irian kalau ternyata masih banyak penduduknya yang bertaraf hidup miskin ?’
    sebagian digunakan untuk membangun kota2 besar terutama jakarta. jalan2 yang bagus yang bisa kita nikmati, fasilitas2 yang memanjakan orang2 kota dan sebagian lagi ke kantong2 orang2 yang tamak yang menjadi pemimpin negeri ini.
    kita harus melakukan sesuatu, kita harus membuat perubahan, demi mereka yang senantiasa mengirimkan ‘upetinya’ untuk membuat kita hidup lebih santai dan senang sementara mereka untuk makan saja susah,
    kita harus memulainya sekarang, dari diri sendiri dari hal yang paling kecil karena mereka saudara kita!

    setuju !
    yuk kita mulai perubaha itu.
    dengan saling peduli ke sesama..

  10.   BeNe2 | October 14th, 2008 at 10:29

    Baru tadi pagi aku merenung diangkot dalam perjalanan ke tempat kerja….di TV sekolah gratis….tapi anak2ku aja sempet pada nganggur 1 thn gara2 aku kesulitan ekonomi….sodara kaya + tetangga kaya + pemerintah……pada kemana…? itulah jaman sekarang tingkat kepedulian sudah semakin menipis…kalo ada rejeki lebih yo masing2 kita cari sendiri sodara,tetangga atau org lain yg punya semangat belajar tapi kurang mampu….mudah2an bermanfaat.

    Ajakan yang sangat bagus mas.
    sekalipun yang kita berikan itu hanya sedikit, tapi bisa jadi “banyak” bagi orang lain..

  11.   arhiest182 | October 14th, 2008 at 10:29

    HeM.. HeM..

    itu pengalaman pribadi apa ya??
    #garuk2 kepala#
    :)

    tapi bagos,buat cermin
    diri kita.
    ;)

    cermin agar kita selalu bersyukur dan peduli sesama

  12.   Astrajingga | October 14th, 2008 at 10:30

    Pada saat saya tugas di tangerang selama 11 tahun, saya juga pernah mengalami hal seperti ini, bayangkan di dekat Jakarta.
    Pertama kali waktu di daerah agak pedalaman tangerang, kronjo, ada ibu dan anak terkagum-kagum waktu kita makan pop mie, terkagum karena ada mie yang langsung matang, kebetulan dia ga liat proses awal (waktu nuangin air panas).
    Yang kedua, waktu pake hand phone teman kami untuk hubungi keluarganya - waktu itu daerahnya kena bencana banjir. Dia bilang pemerintah sekarang hebat yah ada telpon ga pake kabel.

    begitu juga saat saya ke pedalaman Serang…
    betapa masih banyak rakyat yang sangat tertinggal.
    Padahal mereka hidup bersebelahan dengan kota laknat Jakarta…

  13.   Suzamar | October 14th, 2008 at 10:32

    Pina oh Pina, betapa malang nasibmu….andai saja masamu itu bersamaan dengan masa R.A. Kartini akan lain ceritanya. Pina akan dikenang sepanjang masa sebagai bentuk kegigihan dalam emansipasi pendidikan kaum hawa.

    Namun sayang…masamu adalah masa kini, dimana orang2 sudah mementingkan dirinya sendiri, dimana para pejabat dah korup semua, dimana tidak ada lagi rasa kepedulian buat sesama.

    Semoga saja cita-citamu tidak berakhir hanya karena berakhirnya pendidikanmu…

    iya, semoga saja. Dimanapun keberadaan Pina, semoga ia bahagia dengan hidupnya

  14.   tohir | October 14th, 2008 at 10:56

    semoga tidak ada lagi pina-pina yang lain

    semoga saja mas :)

  15.   Izaru | October 14th, 2008 at 11:01

    send me your YM pls

    tuh ada diatas

  16.   pimbem | October 14th, 2008 at 11:15

    waks!
    jakarta ga laknat kok Lies cuma sialan aja hahaha
    disini cuma kentut aja yg gratis, parah!

    kembali to pina… sayang sekali nasibnya ga seberuntung kt.. Pemerintah mah ga usah ditanya, udah habis kepercayaan saya sm yg namanya pemerintah.. duit.. duit.. duit mulu, kapan mo majunya??!!

    nanti kalo ke jakarta mo puas2in kentut ah :D

  17.   hedy | October 14th, 2008 at 11:17

    banyak sosok “Pina” yang lain, pantes …. lies nga inget apa tuh jakarta hehehehehe

    amnesia kalo ditanya jakarta :D

  18.   ezZa | October 14th, 2008 at 11:27

    beda dgn orang madura klo mau naek lift…

    dia bilang “kok masuk cowok kluar cewek? kotak sulap apa ini?” (logat madura)…

    asli kejadian nyata juga di surabaya waktu itu…

    wekekekekeke..

  19.   duapuluhsenja | October 14th, 2008 at 11:36

    ah.. andai Pina ini punya nama ujung: Panduwinata..

    tentu ia sudah jadi penyanyi :D

  20.   Pakacil | October 14th, 2008 at 11:50

    Seringkali menyaksikan realita macam ini di depan mata kita gampang membuat kita untuk kian tak percaya pada institusi yang bernama pemerintah.

    Mungkin mereka yang berada di luar dan jauh dari pusat kekuasaan sudah hampir jenuh bicara dan teriak tentang keadilan, pemerataan dan lain sejenisnya terkait pengerukan sumber daya alam.

    Di tempat kami misalnya, setiap tahun terjadi pemadaman listik bergilir selama 1 bulan. Pada sisi lain batu bara di keruk dan dikirim untuk memastikan pasokan listrik di daerah lain berjalan lancar yang kalau padam sehari saja sudah masuk berita dan disiarkan secara nasional.

    Saya sendiri, sudah mempercayai betul bahwa kita masih sebatas menjadi negara, masih belum mantap menjadi sebuah bangsa.

    Kecewa, marah, tak peduli & prasangka bagi saya sudah merupakan sebuah kenyataan tak terbantahkan dan memang dirasakan.
    Namun apakah itu semua yang terpenting dan menjadi perhatian? Tidak !!! Pensikapan atas itu semua yang menjadi teramat penting bagi saya.

    Saya mencoba mensikapi itu semua dengan keyakinan, kita tidak boleh mengharapkan orang lain untuk memperhatikan kita, tapi kita sendirilah yang harus berjuang memperhatikan diri sendiri dengan tingkat semaksimal yang saya bisa.

    Maaf kalau ada yang tak berkenan atas kenyataan ini.
    :)

    tidak ada yang keberatan Pian,
    karena yang Pian tuliskan memang betul, bahwa kita sendirilah yang harus berjuang memperhatikan diri sendiri.
    Hanya saja harus kita akui bahwa sistem pendidikan dan pembangunan negara kita masih belum merata, hingga lantas ada banyak orang yang kecewa (termasuk saya) dengan kenyataan ini.
    terlebih lagi, jika saya dihadapkan dengan hitamnya kehidupan Pina.
    ……………………….
    ………………………
    teringat lagu iwan fals.. “hitam nasibmu, sehitam kulitmu kawan…”

  21.   e12yl | October 14th, 2008 at 12:02

    nih bukti bahwa belum ada pemerataan di Indonesia…

    InsyaAllah dengan kepedulian kita, pemerataan itu bsia tercapai

  22.   paluhlimbuy | October 14th, 2008 at 12:02

    Udah jarang semangat seperti Pina di muka bumi ini, walaupun ada…
    Salut buat Pina.. moga suatu saat Pina mendapatkan Impiannya

    amin. semoga cita-citanya tak berhenti saat ia kembali ke rimbanya

  23.   alfin | October 14th, 2008 at 12:07

    coba kamu buat novelnya ya..pasti ntar kayak laskar pelangi dech..

    wah saya bukan penulis handal..
    cukup mengagumi Kak Ikal aja untuk saat ini

  24.   ayay | October 14th, 2008 at 12:15

    Klo boleh mengutip kata ibu Gurunya Andrea “Bu Mus”
    “jadi dimana letak Majunya Bangsa kita ini ?”

    ah Indonesia..
    kita-kita inilah yang wajib melakukan perubahan..
    yuk selalu peduli dengan sesama :)

  25.   Ninik | October 14th, 2008 at 12:18

    Benar bangeddddd….yaqin banyak sekali Pina2 yang spt diceritakan di sini, yang dalam ketakberuntungannya pun masih mau terus berjuang.

    Hanya sayang, kenapa tidak dipanjangkan sedikit lagi napas perjuangannya, kenapa harus berhenti di saat dia belum dinyatakan KALAH oleh pihak kampus? Maap, saya memang tidak tahu bagaimana kondisinya ketika kuliah, apakah pihak sekolah tidak membantu memberi keringanan? teman2?

    Saat ini ada seorang anak yatim piatu yang tinggal di lorong kumuh, yang dibantu ramai2 dan pelan2 para donatur itu pun rontok satu per satu seiring waktu berjalan; tetapi motivasi untuk terus bertahan terus dihembuskan. Doakan agar donaturnya yang masih ada tetap bertahan bahkan bertambah jika mungkin dan dia pun bertahan sampai tuntas SMEA nya 2010 nanti.

    Maaf (lagi!) tanpa bermaksud mengecilkan perjuangan teman2 Pina agar dia bertahan, mungkin memang sudah garisan nasib dia untuk kembali ke Papua, semoga ilmu yang sempat dia serap berguna di sana, dan semoga takdir hidupnya bisa lebih baik wlo pendidikannya tak tuntas.

    PEMERINTAH? Sudah lama saya tidak lagi percaya pada institusi itu, lebih baik berjibaku sesama kita yang peduli, ketimbang menanam asa padanya. Kita yang peduli, yang bagi kita uang 50rb cuma buat satu kali makan siang atau kopi mahal itu, kita2 lah yang harus bergandengan tangan saling membantu orang2 yang patut dibantu di sekeliling kita.

    Maaf (lagi!) jadi kasi komentar yang terlalu panjang hiks … TETAP SEMANGAT YA!

    gak masalah kok komentar panjang. mau buat satu HVS juga sah-sah saja. kasus sosial seperti ini memang selalu menyentuh nurani kita.
    tentang beasiswa itu mbak, sulit didapat oleh seorang Pina. Mbak Ninik tau sendiri, di Indonesia ini sangat ribet urusan administrasi, untuk dapatkan beasiswa, harus ada surat keterangan dari lurah dan camat, surat ketrangan lain-lain yang harus menggunakan cap dari rimbanya sana…

    saya sendiri pernah kok mengalami ribetnya urusan surat menyurat saat mendaftar diri untuk mendapatkan beasiswa…

  26.   lischantik | October 14th, 2008 at 12:23

    Andai lilis ke Jakarta…lebih lama dan berkesampatn “berkeliling” lilispun pasti akan merasa takjub dan rada heran bak ‘pina’ coz ada beberapa hal yg emang di daerah lilis ga ada dan ga pernah lilis liat. Misalanya aja jembatan layang. Hanya tau dari tv aj.

    kalo hanya mau liat jembatan layang, mending lilis ke palembang aja.
    sekalian kita ketemuan :D

  27.   cantigi™ | October 14th, 2008 at 12:30

    pasti selalu ada hikmahnya ya.. ^_^

    selalu ada hikmah dibalik semua kejadian :)

  28.   mikekono | October 14th, 2008 at 12:31

    itulah akibatnya jika
    pemerataan pendidikan dijadikan
    sekadar bumbu kampanye
    saat kampanye capres, cagub, cawal, cabup
    janji akan realisir anggaran pndidikan
    20 persen, pendidikan gratis, rakyat tak bodoh
    dan segala macam
    tp semuanya janji2 palsu belaka
    btw, untung easy tak terkena janji palsu
    hingga sekolahnya selamat hingga tamat

    hehehe.. selalu balik2 sangkut ke politik ya bang.

    Iya Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan pendidikan hingga strata 1 :)

  29.   warmorning | October 14th, 2008 at 12:33

    *merenung dan bersyukur* thx nona :)

    ohya, alamat pengiriman sudah tau belum bang ?

    *masih maksa menang hadiah :D*

  30.   harmanto | October 14th, 2008 at 12:42

    Pin sayang Pina malang, korban dari kurangnya pemerataan dalam pembangunan. Mestinya ada yang memberi beasiswa karena jarang ada orang yang memiliki tekad kuat seperti Pina. Dulu saya juga punya pembantu dari daerah pedalaman Wonosobo (Jawa Tengah), saat di rumah ternyata tidak bisa makan nasi biasa bisanya hanya nasi jagung ) bahkan jajanan seperti indomie, baso dllnya juga belum pernah makan dan nggak mau daripada khawatir sakit akhirnya kami kembalikan dan 4 tahun kemudian datang lagi ingin menjadi pembantu di rumah kami ternyata sudah gaul..wuih hape-hapean terus sama pacarnya akhirnya pacarnya yang nggak kuat..dan pamit ke kami untuk menikah :D

    sekali lagi, saya harus jelaskan..
    tak mudah mendapatkan beasiswa.. tetap ada urusan surat menyurat yang tak bisa Pina penuhi.
    waktu itu, beasiswa hanya dibuka selama seminggu (pendaftaran), sementara surat2 yang harus dipenuhi antara lain surat keterangan dari lurah dan camat.
    nah sekarang silahkan hitung sendiri, apa bisa Pina memenuhi persyaratan administrasi itu dalam waktu 1 minggu?

    bicara pembantunya mas harmanto yang ga bisa makan2 lain selain nasi jagung, saya jadi teringat Eyang saya sendiri. seumur-umur Beliau belum pernah makan ikan laut.. kalaupun disodori tak akan pernah disentuh oleh Beliau

  31.   lischantik | October 14th, 2008 at 12:51

    Andai ada kesempatan Lilis pasti ke palembang ketemua Easy yg baik dan manis*baru tau palembang ada jembatan layang*

    ada kok, belum lama di launching. di Palembang namanya bukan jembatan layang , tapi “fly over” hihihi..

  32.   hafi | October 14th, 2008 at 13:07

    wallahh …

    sadarkah penentu kebijakan, betapa bodohnya mereka dikadalin oleh orang asing ??
    sadarkah koruptor, betapa jahatnya mereka ??
    bukan sekedar makan duit orang bisa kenyang …, tapi lebih dari ituu .. merenggut bnyk impian .. merenggut banyak masa depan …
    innalillahi …
    mudah2an segala sesuatunya jadi lebih baik untuk indonesiakuw … :)

    -hafi-

    Amin. semoga selalu ada perubahan nyata yang bisa kita lakukan untuk Indonesia tercinta

  33.   dani | October 14th, 2008 at 13:16

    indonesia.???? apasih yg di banggakan jg warga negara ini.pemerntahan yg kacau danamburadullll gajelas. indonesia gabakaln menjdi negara yg mamur. apalagi jd ngara maju negara yg menjuluki ngara brknmbang pun sdah lepas boro2 maju. selama para koruptor mash kuasai pemerntahan DPR/dsb.saya sangat setuju bila pra koruptor di hukum mati atau di gantung d tengah lapangan biar pd tau semuanya.

    tapi tetap saja kita harus bangga menjadi warga negara Indonesia..
    karena ditangan kitalah perubahan itu bisa terjadi

  34.   una | October 14th, 2008 at 13:41

    easy baru pertama nie baca blog u….btw kok nyebut almamater nie (asmi santa maria)

    saya bukan almamater santa maria.
    saya lulusan STMIK Akakom Jogja

  35.   maskoko | October 14th, 2008 at 14:48

    Bagai Pina di belah dua…

    gak pake ng ini mas :)

  36.   Sendy Adhika Noor | October 14th, 2008 at 14:58

    Oke deh….

    oke lah

  37.   Sendy Adhika Noor | October 14th, 2008 at 14:58

    Oke deh….

    ok Pak

  38.   Riska | October 14th, 2008 at 14:59

    Hiks..hiks.. kasian banget pina… mudah2an dia selamat sampai papua dan tetep punya semangat yg tinggi untuk belajar.

    Hoyy.. kalo ada pejabat or calon pejabat yg baca postingan ini.. sadarlah kalian..masih ada rakyatnya yg primitif sementara kalian meributkan mobil dinas mewah, Laptop, jalan2 ke LN…weleh..weleh…

    Best Regards

    Riska Amalia
    http://www.butik-ceria.com
    Jual Sprei-Grosir Sprei- Online

    helo mbak riska..
    ini iklan ? hehhe.. semoga sukses ya Mbak butiknya :)

  39.   andiii | October 14th, 2008 at 15:40

    duhhh….. cantik nian tulisanmu !
    SALUT !
    Take care!
    Taufiq (081314439252)

    ampun !
    gak pha-pha nih sampe pajangin nomer hp ?
    thanks pujiannya :)

  40.   atoeyz | October 14th, 2008 at 15:52

    beuh mba riska marah :@

    setelah pusing ngurusin coding dan mulai ngerasa ga nyaman dan uring uringan baca tulisan pina ,..

    **sambil ngelus dada** ,.. alhamdllah bersyukur ku masih bsa kaya gini,.kasian pina ya

    maaf kalo udah bikin kang atoeyz uring2an..

    #berdoa aja semoga Pina bahagia

  41.   asep ridwan | October 14th, 2008 at 15:54

    Seandainya negara kita tercinta ini punya yang namanya BAITUL MAAL…
    Insya Alloh, negara akan makmur.

  42.   dandoenk | October 14th, 2008 at 16:06

    APBD di Papua konon katanya sangat besar, tapi sebagian besar malah habis di tingkat birokrasi. “Keadilan Sosial belum seluruh rakyat Indonesia”, itu sila keberapa ya ?? :D

    waduh lupa ya ?
    sila ke 5 kalau ga salah
    *jaahhh.. diperjelas :D

  43.   ruanghati | October 14th, 2008 at 16:10

    Membaca postinganmu selalu saja sarat makna, salut aku …

    Easy, pina adalah salah satu anak bangsa yang kurang beruntung. Andai saat itu ada orang atau sedikit keberuntungan mungkin ceritanya jadi lain. Kadang orang butuh keberuntungan untuk hidup.
    Semoga pina sekarang keadaannya jadi lebih baik di di papua sana.

    Jadi keinget ketika aku mau SMP dulu , harus memutuskan untuk meninggalkan mama aku dan tinggal dengan orang lain sambil bekerja jika ingin tetap sekolah ..hiks ..

    Aku masih jauh lebih beruntung bisa menyelesaikan semua pendidikan itu dengan baik, meski harus sambil bekerja sejak kecil.

    Alhamdulillah ….

    Salut mbak untuk pengalamannya dalam mengejar pendidikan :)

  44.   iip | October 14th, 2008 at 16:12

    tak heran kalo banyak saudara kita yang di papua ingin merdeka. Banyak ketertinggalan yang disengaja, sistematis dan membuat kita tertutup mata.

    mudah-mudahan kesenjangan makin berkurang, dan keadilan menjadi kenyataan

    amin.. moga aja keadilan itu tercipta walau memang sulit mengartikan adil

  45.   ZFLY | October 14th, 2008 at 17:33

    Jakarta bukan tempat cari makan or sekolah buat orang2 tak mampu. Jakarta cuma cocok untuk kaum koruptor.

    hah ?

  46.   namada | October 14th, 2008 at 18:05

    duh..kasian bgd..~~
    jgn tanya kepada pemerintah tentang pendidikan dan kemajuan bangsa, tanyalah pada rumput yang bergoyang..halah!!^^
    tetap semangat..

    rumput lagi malas goyang mada :D

  47.   1nd1r4 | October 14th, 2008 at 18:38

    Alhamdulillah, aq bisa mengenyam pendidikan bahkan sampai negeri seberang. Ada usaha, Insya Allah akan ada kesempatan. Jangan sampai berhenti bermimpi, berdoa dan berusaha :)

    bermimpi…
    semua memang berawal dari mimpi..
    kejar terus hingga ia benar2 nyata :)

  48.   trendy | October 14th, 2008 at 19:21

    semangat!
    Tuhan pasti kasih jalan!

    InsyaAllah

  49.   edratna | October 14th, 2008 at 19:46

    Orang Papua makanannya memang ubi kayu, jadi wajar dia menginginkan itu saat kurang enak badan….

    Untuk membuat pemerataan memang sulit, tapi banyak juga orang sukses karena mau bekerja keras, saya banyak melihat contoh anak yang membiayai kuliahnya sendiri sejak tingkat 2, dan dia lulus dari perguruan tinggi terkemuka dalam waktu 3,5 tahun.

    Mungkin Pina banyak merasakan sakit hati pada ayahnya, sehingga melupakan dia harus berjuang untuk tetap bertahan hidup.

    Btw, kita harus membiasakan anak-anak mandiri, anakku dan teman-temnnya sejak tk.2 sudah mulai mencari uang sendiri…dan banyak temannya yang hanya satu tahun dibiayai oleh orangtuanya.

    betul Bu :)
    memang harus biasakan mandiri sedari dini ya.

  50.   Eeta | October 14th, 2008 at 19:54

    Sayang bgt tekadny bwt nerusin pendidikanny harus dipendam mungkin tuk slama2ny, pdhal dah jauh2 k jogja :’( coba da yg lebih banyak peduli yah…

    hidup yang sulit…

  51.   Johan | October 14th, 2008 at 20:17

    Benar2 kisah yg menarik. Akhirnya setiap orang selalu kalah dengan keterbatasannya. Meskipun begitu, kita harus terus mencoba sampai mengetahui dimana batas itu.
    Cerita sedih ini memang sering terjadi di daerah. Ternyata, setelah lebih dari 63 tahun merdeka, keadilan masih jadi barang yg langka.

    iya. namun keterbatasan jangan pernah menyurutkan langkah kita untuk terus maju :)

  52.   rizkysutji | October 14th, 2008 at 21:23

    pina hanya salah satu korbn dari tidak adanya kesempatan..
    dengan tekad yang kuat seharusnya dia mendapat kesempatan yang lebih..dibandingkan anak seusianya yang bermewah materi tapi tidak sungguh2 memanfaatkn kesempatan itu..
    kita sebagai salah satu orang yang beruntung mendapat kesempatan itu..belajarlah untuk saling berbagi dengan pina-pina disekitar kita agar mereka mendapat kesempatan yang sama dengan kita..
    “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya..bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya”

    teringat kalimat bijak di laskar pelangi..

  53.   Greenapple2008 | October 14th, 2008 at 21:28

    masih ada kontak dgn pina?

    sama sekali nggak pernah

  54.   bayu200687 | October 14th, 2008 at 21:40

    ahhh, cerita ini bikin saya malu…
    secara saya seorang pegawai di departemen keuangan…
    ya…saya sendiri bertanya2, kemana pajak2 itu ya..?

    yang terpenting kamu ga ikut ambil bagian jika ada penyelewengan dana :)

  55.   amril arifin | October 14th, 2008 at 23:35

    Sayang sekali PINA gak bisa nyelesaikan kuliahnya, andai saja Pina bisa selesai, pasti akan ada LASKAR PELANGI JILID 2, dengan Setting di Papua dan Yogya … dan Pasti Tokoh Easy ada juga … Btw, Salut ngangkat topik ini …

    wadow Bang.. kalo saya jadi pemain pilem pasti lupa ngeblog :D

  56.   maureen80 | October 14th, 2008 at 23:59

    wekss… “rambut pendek keriting stadium 4…” aku jadi mikir gimana yah kondisi stadium 4 itu??kira2 klo di rebonding ato smoothing pasti dehhh jari2 tukang salonnya yang mekar-mekar… kekeke…

    hmmhhh, masalah seriusnya adalah kita emg harus malu dengan kondisi yang seperti ini… aneka PAJAK dibebankan oleh negara pada kita, namun fasilitas sekelas pendidikan aja sama sekali jauh dari kata: merata.

    gak bisa ngebayangin dehh, sekarang ini di jerman dan negara2 eropa lainnya untuk sekolah sampe level s2 aja gratis.. GRATIS… lah kita aja masih ada yang buta huruf di pedalaman sono… miris sekali sebenarnya…

    dan aku sangat menghargai upaya temen2nya Pina yang peduli dan selalu mencoba support… hanya saja, jelas sampe batas mana kemampuan bbrp orang mampu “peduli” dengan seorang “Pina”…

    perlu dukungan pemerintah yang serius, gak hanya mikirin duit setoran, korupsi, kampanye heboh dan pilkada… sungguh jabatan yang sama sekali gak ada manfaatnya bagi rakyat… Pina dan teman-temannya…

    hahah.. reen, ga perlu dibayangin seberapa keritingnya rambut dia :)

    ah semoga saja kita, pemerintah, dapat seiring sejalan memperbaiki sistem negara ini yang masih saja tak jelas..

  57.   redova | October 15th, 2008 at 00:05

    pina..??…new story old cover ya,..sy?.semua tentang “ketidak beresan” kalo inget hal begini.kaya’ ada sesuatu ditenggorokan.muak bgt.but life must go on,”kerusakan” pada setiap sistem di negri ini berakar pada pola pikir setiap individunya.beban yang berat buat generasi yang akan datang.
    “jika “bapak” kita salah sehingga kita menjadi susah, kita harus memberi tahu pada anak kita, agar anak-cucu mereka tidak akan susah seperti kita”.
    baru 63 thn kita merdeka.generasi pertama (para pejuang)hanya ingin merdeka.generasi ke 2 (para pembangun) telah berusaha membangun negri(walaupun mewariskan hutang).kita generasi ke 3, punya banyak pilihan : ingin “merdeka” dari bangsa sendiri, meneruskan pembangunan, atau diam dan menangisi nasib.pendidikan adalah hak setiap warga negara.tapi sistem pendidikan yang “rusak” tidak terjadi begitu saja.ini warisan.kita harus bisa mewariskan hal-hal yang lebih baik dimasa depan.

    karna satu pemikiran positif.sudah 55 kepala yang berpikir dan berpendapat.satu hal positif tentang kebaikan…
    …heil easy….

    *mengurut dada* semoga kita bisa menciptakan perubahan..

  58.   zfly | October 15th, 2008 at 00:32

    hiks… masih buanyak Pina-Pina yg lain di negeri ini.
    hiks… negeri kaya alam, namun salah urus.
    hiks… semoga pemerintah mendatang diberi hidayah buat menata negeri dan anak negeri ini. Amin…

    hiks… kok ada ZFLY yg laen tu lies.. :?:

    iya Kak.. tadi kirain orang yang sama..
    siapa ya dia ?

  59.   Rajawali Samudra | October 15th, 2008 at 02:09

    No commment…..

    #udah kaya’ pejabat belum?#

    Kak, napa sih ga mau menyertakan link blognya.
    takut diusur KPK ya :D

  60.   janu | October 15th, 2008 at 11:18

    gak ada fotonya ya mbak? :D

    ga ada.

  61.   uni | October 15th, 2008 at 12:11

    jangan khan di papua,di ibukota saja… banyak yg putus belajar hanya gara2 biaya… T_T

    iya Uni..
    butuh kepedulian kita untuk saling berbagi semampunya

  62.   Kreativitas Hidup » Blog Archive » Ada Apa Dengan Easy (AADE)? | October 15th, 2008 at 13:27

    [...] tidak? baru saja hari kemarin (tepatnya 14 Oktober 2008) jadi blog pilihan detik dengan Pina sebagai judul tulisannya. Pagi ini sudah muncul kembali sebagai blog pilihan dengan lagu yang [...]

  63.   nina | October 15th, 2008 at 14:22

    terharu,salut bwt pina,semoga dia
    tetap jadi pina yang easy kenal

    semoga :)

  64.   liesamban | October 17th, 2008 at 23:48

    salahkan 32 tahun !

    ada apa dengan 32 tahun ? Pak Harto ?

  65.   eaSy » Blog Archive » Pian | October 21st, 2008 at 04:34

    [...] lama saya posting tentang Pina, kali ini saya ingin bercerita tentang Pian. Pian tidak sama dengan Pina, karena Pian bukanlah nama [...]

Leave a Comment