Pina
True Story October 14th, 2008
Dulu, sewaktu kakak ipar saya bercerita tentang seorang ketua adat dari pedalaman irian yang terkagum-kagum saat berada di kota laknat jakarta, saya masih 1/2 tak percaya. Si Ketua Adat itu katanya sangat takjub melihat gedung bertingkat-tingkat, takjub saat naik lift, takjub saat naik mobil sedan *taxi*, takjub saat berada dikamar hotel berbintang lengkap dengan fasilitas canggihnya, takjub juga dengan lantai marmer di tempat-tempat mewah yang mengkilat bin kinclong. waktu itu saya hanya berfikir, ah masa’ sih dijaman sekarang masih ada orang sekuno itu?..
Awalnya saya memang tak percaya, sampai akhirnya saya mengenal Pina. Cewek dengan tinggi sedang namun bodynya tegap berisi, berkulit hitam kelam, rambut pendek keriting stadium 4, lengkap dengan jemari kakinya yang mekar-mekar. Dia adalah produk asli pedalaman Irian. Dengan berbekal finansial pas-pasan ia merantau ke Jogja naik kapal laut demi meneruskan cita-citanya untuk bersekolah.
Diawal saya mengenalnya betapa sering ia membuat saya terkaget-kaget dengan “kekagetan” yang diciptakan olehnya sendiri. Jangankan lihat AC, saat lihat kipas angin saja dia ketakutan. Setengah berteriak ia minta matikan kipas angin tersebut. Baginya sangatlah aneh ada benda mati yang bisa berputar-putar sendiri. Begitu banyak kejadian lucu lain yang Pina ciptakan atas ketakjubannya dengan teknologi yang tak pernah ia temukan di “rimba”nya.
Lalu bagian yang paling merepotkan adalah ketika ia sakit. Bukan repot dalam artian merawatnya, namun repot karena ia minta disediakan “singkong“. Ya, singkong atawa ubi kayu. Saat sakit ia hanya mau makan itu saja. Hanya singkong. aneh juga
. Kadang membuat saya tidak tega melihatnya, namun ya memang singkong-lah yang membuat Pina bisa sembuh.
Itulah Pina, walau ia berbadan tegap tapi ia adalah cewek yang pendiam.
Pina pernah bercerita bahwa ia adalah kembang desa di dusunnya *dan saya sangat percaya itu*, ia cerita betapa sering ia dilamar oleh orang-orang dari sukunya, namun ia ingin bersekolah. Ia bertekad ingin berpendidikan. Saya salut dengan Pina. Ia yang selalu memanggil saya “kakak” ini adalah pribadi yang sangat gemar membantu.
Namun sayangnya Pina tak pernah bisa menyelesaikan kuliah Akademinya (di ASMI Santa Maria Jogja). Di semester 4 ia terkatung-katung tak pernah dikirimin uang. Kabar yang berhembus dari kampung halaman adalah Bapaknya sudah menikah lagi. Otomatis sejak itu hidup Pina menjadi tak jelas, saya dan bererapa teman tentu tak membiarkan ia sendirian. Berpatungan kami saling bahu membahu membantu Pina. Ia tak segan membantu mencuci pakaian, menyetrika, dan berbagai pekerjaan lainnya.
Sampai akhirnya setelah 1/2 tahun hidup tak menentu, Pina minta pulang ke Irian. Ia sudah tak kuat. Dengan sebisanya kamipun membekali Pina uang untuk bisa ke Surabaya lalu melanjutkan naik kapal ke Irian. Saya ingat betul malam terakhir saat melepasnya pergi. Ia tak banyak bersuara. hanya sibuk membungkus semua benda yang dimilikinya, termasuk kasur busa yang sudah kempis tak berbentukpun dilipatnya sekecil mungkin dan dimasukkannya juga kedalam koper jadul (koper yang segede gajah tanpa roda -red).
*hhhhf.. saya sedih mengenang bagian dari kisah ini..*
Setelah malam itu tak ada berita yang kami dapat. Hanya bisa berdoa semoga Pina selamat sampai tujuan. Ia sungguh perempuan yang tangguh.
———————————————————
Pasca kejadian “Pina”, ada banyak pertanyaan yang memenuhi rongga kepala. Kemana saja pembangunan bangsa kita selama ini ? Kemana saja pajak-pajak rakyat yang katanya digunakan untuk pembangunan ? Kemana saja uang hasil “eksploitasi” bumi irian kalau ternyata masih banyak penduduknya yang bertaraf hidup miskin ? Kemana saja sistem pendidikan kita selama ini? … KEMANA ??? KE MA NA ? Harus ada berapa banyak lagi perempuan seperti PINA untuk bangsa ini korbankan ?
#akhirnya saya hanya bisa bersyukur dapat mengenyam pendidikan dan bisa bekerja di tanah air Indonesia yang maha kaya ini#
About




Tas-tas handmade cantik asli Indonesia. Bisa kamu 
wah.. sayang ya.. semangatnya itu kurang panjang.. meski hidup mungkin baginya hanyalah sekedar menunda kekalahan sebelum akhirnya menyerah, tapi mbok yo jangan secepat itu.. ahh.. sayang sekali ya..
masalah ‘pemerataan’ pendidikan dan kesejahteraan, itu memang masih merupakan masalah besar di negeri ini.. PR yang panjang dan melelahkan utk menyelasaikannya..
Pina pribadi yang langka….pribadi yang tak semua orang memilikinya, dia lebih mengutamakan cita-cita walau berbekal finansial yg pas-pas Pina merantau dari kampungnya Pedalaman Iriannya menuju Jogjakarta kota pendidikan itu…salut…yang pada akhirnya Pina tidak bisa menyelesaikan kuliah Akademinya karena biaya pendidikannya Nol lalu pulang…sedih…..
mungkin banyak yang bernasip sama seperti Pina…
menjawab pertanyaan esay kemana saja? tentunya telah di KO RO P SI…………..
pernah nyoba nggak dicariin beasiswa untuk anak desa tak punya kemampuan namun cukup punya semangat untuk merubah diri
Pemerintah terutama pak Mentri yang barkaitan dengan desa tertinggal harusnya nengok blognya mba easy ini barang kali terinspirasi untuk memajukan lokasi-lakasi lain selain kejadian pina ini.. sebenarnya banyak sekali seperti kejadian - kejadian yang hampir persis sama yang di alami pina.
http://www.asephd.co.cc
Disini (papua) ada banyak pelajar/mahasiswa yang memiliki nasib seperti pina. punya ke inginan kuat untuk trus maju dan sekolah tapi keterbatasan ekonomi. Dan sekarang disini…sy bisa langsung menyaksikan kalau ternyata cerita yang pernah sy dengar nyata. Otsus…ternyata tidak menjawab kondisi yang ada…..
Hem…untungnya dimnkwri sudah jadi ibukota provensi, jadi fasilitas yang ada sudah memadai. Irian sudah berubah nama jadi papua, yang terbagi dalam 2 provinsi, papua yg ibukotanya jayapura dan papua barat yang ibukotanya Manokwari.
:).
Bumi Cendrawasih adalah bumi yang kaya sumber alamnya dan kebudayaan yang eksotis, Mudah mudahan pemerintah bisa lebih fokus untuk Irian Jaya kita yang kaya raya agar bisa lebih maju dan bermanfaat dan rakyatnya bisa lebih mapan.
Tentang Pina, Jadi ingat tahun 1995 di Bandung pada ramai ramai mengadopsi anak anak irian, awalnya dikasih makan nasi sama lauk yg sehari hari biasa kita makan gak mau, dikasih jajanan gak mau, apalagi disuruh sikat gigi odolnya malah dimakan he..he..he…pada bingung semua karena anak anak itu mogok makan ternyata setelah dikasih singkong rebus mereka makan banyak sekali
wah komenya panjang2 ya.kayanya posting yang serius nih.
*baca posting dulu*
pina itukan nama temen gw liez !!
aQ senang hari ini banyak yang posting tentang kepeduliannya pada orang lain..
melihat mereka yang kurang ‘beruntung’ dibanding kita.
ternyata Blogers di detik ini tidak hanya sibuk dengan dirinya sendiri.
‘Kemana saja pajak-pajak rakyat yang katanya digunakan untuk pembangunan ? Kemana saja uang hasil “eksploitasi” bumi irian kalau ternyata masih banyak penduduknya yang bertaraf hidup miskin ?’
sebagian digunakan untuk membangun kota2 besar terutama jakarta. jalan2 yang bagus yang bisa kita nikmati, fasilitas2 yang memanjakan orang2 kota dan sebagian lagi ke kantong2 orang2 yang tamak yang menjadi pemimpin negeri ini.
kita harus melakukan sesuatu, kita harus membuat perubahan, demi mereka yang senantiasa mengirimkan ‘upetinya’ untuk membuat kita hidup lebih santai dan senang sementara mereka untuk makan saja susah,
kita harus memulainya sekarang, dari diri sendiri dari hal yang paling kecil karena mereka saudara kita!
Baru tadi pagi aku merenung diangkot dalam perjalanan ke tempat kerja….di TV sekolah gratis….tapi anak2ku aja sempet pada nganggur 1 thn gara2 aku kesulitan ekonomi….sodara kaya + tetangga kaya + pemerintah……pada kemana…? itulah jaman sekarang tingkat kepedulian sudah semakin menipis…kalo ada rejeki lebih yo masing2 kita cari sendiri sodara,tetangga atau org lain yg punya semangat belajar tapi kurang mampu….mudah2an bermanfaat.
HeM.. HeM..
itu pengalaman pribadi apa ya??
#garuk2 kepala#
tapi bagos,buat cermin

diri kita.
Pada saat saya tugas di tangerang selama 11 tahun, saya juga pernah mengalami hal seperti ini, bayangkan di dekat Jakarta.
Pertama kali waktu di daerah agak pedalaman tangerang, kronjo, ada ibu dan anak terkagum-kagum waktu kita makan pop mie, terkagum karena ada mie yang langsung matang, kebetulan dia ga liat proses awal (waktu nuangin air panas).
Yang kedua, waktu pake hand phone teman kami untuk hubungi keluarganya - waktu itu daerahnya kena bencana banjir. Dia bilang pemerintah sekarang hebat yah ada telpon ga pake kabel.
Pina oh Pina, betapa malang nasibmu….andai saja masamu itu bersamaan dengan masa R.A. Kartini akan lain ceritanya. Pina akan dikenang sepanjang masa sebagai bentuk kegigihan dalam emansipasi pendidikan kaum hawa.
Namun sayang…masamu adalah masa kini, dimana orang2 sudah mementingkan dirinya sendiri, dimana para pejabat dah korup semua, dimana tidak ada lagi rasa kepedulian buat sesama.
Semoga saja cita-citamu tidak berakhir hanya karena berakhirnya pendidikanmu…
semoga tidak ada lagi pina-pina yang lain
send me your YM pls
waks!
jakarta ga laknat kok Lies cuma sialan aja hahaha
disini cuma kentut aja yg gratis, parah!
kembali to pina… sayang sekali nasibnya ga seberuntung kt.. Pemerintah mah ga usah ditanya, udah habis kepercayaan saya sm yg namanya pemerintah.. duit.. duit.. duit mulu, kapan mo majunya??!!
banyak sosok “Pina” yang lain, pantes …. lies nga inget apa tuh jakarta hehehehehe
beda dgn orang madura klo mau naek lift…
dia bilang “kok masuk cowok kluar cewek? kotak sulap apa ini?” (logat madura)…
asli kejadian nyata juga di surabaya waktu itu…
ah.. andai Pina ini punya nama ujung: Panduwinata..
Seringkali menyaksikan realita macam ini di depan mata kita gampang membuat kita untuk kian tak percaya pada institusi yang bernama pemerintah.
Mungkin mereka yang berada di luar dan jauh dari pusat kekuasaan sudah hampir jenuh bicara dan teriak tentang keadilan, pemerataan dan lain sejenisnya terkait pengerukan sumber daya alam.
Di tempat kami misalnya, setiap tahun terjadi pemadaman listik bergilir selama 1 bulan. Pada sisi lain batu bara di keruk dan dikirim untuk memastikan pasokan listrik di daerah lain berjalan lancar yang kalau padam sehari saja sudah masuk berita dan disiarkan secara nasional.
Saya sendiri, sudah mempercayai betul bahwa kita masih sebatas menjadi negara, masih belum mantap menjadi sebuah bangsa.
Kecewa, marah, tak peduli & prasangka bagi saya sudah merupakan sebuah kenyataan tak terbantahkan dan memang dirasakan.
Namun apakah itu semua yang terpenting dan menjadi perhatian? Tidak !!! Pensikapan atas itu semua yang menjadi teramat penting bagi saya.
Saya mencoba mensikapi itu semua dengan keyakinan, kita tidak boleh mengharapkan orang lain untuk memperhatikan kita, tapi kita sendirilah yang harus berjuang memperhatikan diri sendiri dengan tingkat semaksimal yang saya bisa.
Maaf kalau ada yang tak berkenan atas kenyataan ini.

nih bukti bahwa belum ada pemerataan di Indonesia…
Udah jarang semangat seperti Pina di muka bumi ini, walaupun ada…
Salut buat Pina.. moga suatu saat Pina mendapatkan Impiannya
coba kamu buat novelnya ya..pasti ntar kayak laskar pelangi dech..
Klo boleh mengutip kata ibu Gurunya Andrea “Bu Mus”
“jadi dimana letak Majunya Bangsa kita ini ?”
Benar bangeddddd….yaqin banyak sekali Pina2 yang spt diceritakan di sini, yang dalam ketakberuntungannya pun masih mau terus berjuang.
Hanya sayang, kenapa tidak dipanjangkan sedikit lagi napas perjuangannya, kenapa harus berhenti di saat dia belum dinyatakan KALAH oleh pihak kampus? Maap, saya memang tidak tahu bagaimana kondisinya ketika kuliah, apakah pihak sekolah tidak membantu memberi keringanan? teman2?
Saat ini ada seorang anak yatim piatu yang tinggal di lorong kumuh, yang dibantu ramai2 dan pelan2 para donatur itu pun rontok satu per satu seiring waktu berjalan; tetapi motivasi untuk terus bertahan terus dihembuskan. Doakan agar donaturnya yang masih ada tetap bertahan bahkan bertambah jika mungkin dan dia pun bertahan sampai tuntas SMEA nya 2010 nanti.
Maaf (lagi!) tanpa bermaksud mengecilkan perjuangan teman2 Pina agar dia bertahan, mungkin memang sudah garisan nasib dia untuk kembali ke Papua, semoga ilmu yang sempat dia serap berguna di sana, dan semoga takdir hidupnya bisa lebih baik wlo pendidikannya tak tuntas.
PEMERINTAH? Sudah lama saya tidak lagi percaya pada institusi itu, lebih baik berjibaku sesama kita yang peduli, ketimbang menanam asa padanya. Kita yang peduli, yang bagi kita uang 50rb cuma buat satu kali makan siang atau kopi mahal itu, kita2 lah yang harus bergandengan tangan saling membantu orang2 yang patut dibantu di sekeliling kita.
Maaf (lagi!) jadi kasi komentar yang terlalu panjang hiks … TETAP SEMANGAT YA!
Andai lilis ke Jakarta…lebih lama dan berkesampatn “berkeliling” lilispun pasti akan merasa takjub dan rada heran bak ‘pina’ coz ada beberapa hal yg emang di daerah lilis ga ada dan ga pernah lilis liat. Misalanya aja jembatan layang. Hanya tau dari tv aj.
pasti selalu ada hikmahnya ya.. ^_^
itulah akibatnya jika
pemerataan pendidikan dijadikan
sekadar bumbu kampanye
saat kampanye capres, cagub, cawal, cabup
janji akan realisir anggaran pndidikan
20 persen, pendidikan gratis, rakyat tak bodoh
dan segala macam
tp semuanya janji2 palsu belaka
btw, untung easy tak terkena janji palsu
hingga sekolahnya selamat hingga tamat
*merenung dan bersyukur* thx nona
Pin sayang Pina malang, korban dari kurangnya pemerataan dalam pembangunan. Mestinya ada yang memberi beasiswa karena jarang ada orang yang memiliki tekad kuat seperti Pina. Dulu saya juga punya pembantu dari daerah pedalaman Wonosobo (Jawa Tengah), saat di rumah ternyata tidak bisa makan nasi biasa bisanya hanya nasi jagung ) bahkan jajanan seperti indomie, baso dllnya juga belum pernah makan dan nggak mau daripada khawatir sakit akhirnya kami kembalikan dan 4 tahun kemudian datang lagi ingin menjadi pembantu di rumah kami ternyata sudah gaul..wuih hape-hapean terus sama pacarnya akhirnya pacarnya yang nggak kuat..dan pamit ke kami untuk menikah
Andai ada kesempatan Lilis pasti ke palembang ketemua Easy yg baik dan manis*baru tau palembang ada jembatan layang*
wallahh …
sadarkah penentu kebijakan, betapa bodohnya mereka dikadalin oleh orang asing ??
sadarkah koruptor, betapa jahatnya mereka ??
bukan sekedar makan duit orang bisa kenyang …, tapi lebih dari ituu .. merenggut bnyk impian .. merenggut banyak masa depan …
innalillahi …
mudah2an segala sesuatunya jadi lebih baik untuk indonesiakuw …
-hafi-
indonesia.???? apasih yg di banggakan jg warga negara ini.pemerntahan yg kacau danamburadullll gajelas. indonesia gabakaln menjdi negara yg mamur. apalagi jd ngara maju negara yg menjuluki ngara brknmbang pun sdah lepas boro2 maju. selama para koruptor mash kuasai pemerntahan DPR/dsb.saya sangat setuju bila pra koruptor di hukum mati atau di gantung d tengah lapangan biar pd tau semuanya.
easy baru pertama nie baca blog u….btw kok nyebut almamater nie (asmi santa maria)
Bagai Pina di belah dua…
Oke deh….
Oke deh….
Hiks..hiks.. kasian banget pina… mudah2an dia selamat sampai papua dan tetep punya semangat yg tinggi untuk belajar.
Hoyy.. kalo ada pejabat or calon pejabat yg baca postingan ini.. sadarlah kalian..masih ada rakyatnya yg primitif sementara kalian meributkan mobil dinas mewah, Laptop, jalan2 ke LN…weleh..weleh…
Best Regards
Riska Amalia
http://www.butik-ceria.com
Jual Sprei-Grosir Sprei- Online
duhhh….. cantik nian tulisanmu !
SALUT !
Take care!
Taufiq (081314439252)
beuh mba riska marah :@
setelah pusing ngurusin coding dan mulai ngerasa ga nyaman dan uring uringan baca tulisan pina ,..
**sambil ngelus dada** ,.. alhamdllah bersyukur ku masih bsa kaya gini,.kasian pina ya
Seandainya negara kita tercinta ini punya yang namanya BAITUL MAAL…
Insya Alloh, negara akan makmur.
APBD di Papua konon katanya sangat besar, tapi sebagian besar malah habis di tingkat birokrasi. “Keadilan Sosial belum seluruh rakyat Indonesia”, itu sila keberapa ya ??
Membaca postinganmu selalu saja sarat makna, salut aku …
Easy, pina adalah salah satu anak bangsa yang kurang beruntung. Andai saat itu ada orang atau sedikit keberuntungan mungkin ceritanya jadi lain. Kadang orang butuh keberuntungan untuk hidup.
Semoga pina sekarang keadaannya jadi lebih baik di di papua sana.
Jadi keinget ketika aku mau SMP dulu , harus memutuskan untuk meninggalkan mama aku dan tinggal dengan orang lain sambil bekerja jika ingin tetap sekolah ..hiks ..
Aku masih jauh lebih beruntung bisa menyelesaikan semua pendidikan itu dengan baik, meski harus sambil bekerja sejak kecil.
Alhamdulillah ….
tak heran kalo banyak saudara kita yang di papua ingin merdeka. Banyak ketertinggalan yang disengaja, sistematis dan membuat kita tertutup mata.
mudah-mudahan kesenjangan makin berkurang, dan keadilan menjadi kenyataan
Jakarta bukan tempat cari makan or sekolah buat orang2 tak mampu. Jakarta cuma cocok untuk kaum koruptor.
duh..kasian bgd..~~
jgn tanya kepada pemerintah tentang pendidikan dan kemajuan bangsa, tanyalah pada rumput yang bergoyang..halah!!^^
tetap semangat..
Alhamdulillah, aq bisa mengenyam pendidikan bahkan sampai negeri seberang. Ada usaha, Insya Allah akan ada kesempatan. Jangan sampai berhenti bermimpi, berdoa dan berusaha
semangat!
Tuhan pasti kasih jalan!
Orang Papua makanannya memang ubi kayu, jadi wajar dia menginginkan itu saat kurang enak badan….
Untuk membuat pemerataan memang sulit, tapi banyak juga orang sukses karena mau bekerja keras, saya banyak melihat contoh anak yang membiayai kuliahnya sendiri sejak tingkat 2, dan dia lulus dari perguruan tinggi terkemuka dalam waktu 3,5 tahun.
Mungkin Pina banyak merasakan sakit hati pada ayahnya, sehingga melupakan dia harus berjuang untuk tetap bertahan hidup.
Btw, kita harus membiasakan anak-anak mandiri, anakku dan teman-temnnya sejak tk.2 sudah mulai mencari uang sendiri…dan banyak temannya yang hanya satu tahun dibiayai oleh orangtuanya.
Sayang bgt tekadny bwt nerusin pendidikanny harus dipendam mungkin tuk slama2ny, pdhal dah jauh2 k jogja :’( coba da yg lebih banyak peduli yah…
Benar2 kisah yg menarik. Akhirnya setiap orang selalu kalah dengan keterbatasannya. Meskipun begitu, kita harus terus mencoba sampai mengetahui dimana batas itu.
Cerita sedih ini memang sering terjadi di daerah. Ternyata, setelah lebih dari 63 tahun merdeka, keadilan masih jadi barang yg langka.
pina hanya salah satu korbn dari tidak adanya kesempatan..
dengan tekad yang kuat seharusnya dia mendapat kesempatan yang lebih..dibandingkan anak seusianya yang bermewah materi tapi tidak sungguh2 memanfaatkn kesempatan itu..
kita sebagai salah satu orang yang beruntung mendapat kesempatan itu..belajarlah untuk saling berbagi dengan pina-pina disekitar kita agar mereka mendapat kesempatan yang sama dengan kita..
“Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya..bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya”
masih ada kontak dgn pina?
ahhh, cerita ini bikin saya malu…
secara saya seorang pegawai di departemen keuangan…
ya…saya sendiri bertanya2, kemana pajak2 itu ya..?
Sayang sekali PINA gak bisa nyelesaikan kuliahnya, andai saja Pina bisa selesai, pasti akan ada LASKAR PELANGI JILID 2, dengan Setting di Papua dan Yogya … dan Pasti Tokoh Easy ada juga … Btw, Salut ngangkat topik ini …
wekss… “rambut pendek keriting stadium 4…” aku jadi mikir gimana yah kondisi stadium 4 itu??kira2 klo di rebonding ato smoothing pasti dehhh jari2 tukang salonnya yang mekar-mekar… kekeke…
hmmhhh, masalah seriusnya adalah kita emg harus malu dengan kondisi yang seperti ini… aneka PAJAK dibebankan oleh negara pada kita, namun fasilitas sekelas pendidikan aja sama sekali jauh dari kata: merata.
gak bisa ngebayangin dehh, sekarang ini di jerman dan negara2 eropa lainnya untuk sekolah sampe level s2 aja gratis.. GRATIS… lah kita aja masih ada yang buta huruf di pedalaman sono… miris sekali sebenarnya…
dan aku sangat menghargai upaya temen2nya Pina yang peduli dan selalu mencoba support… hanya saja, jelas sampe batas mana kemampuan bbrp orang mampu “peduli” dengan seorang “Pina”…
perlu dukungan pemerintah yang serius, gak hanya mikirin duit setoran, korupsi, kampanye heboh dan pilkada… sungguh jabatan yang sama sekali gak ada manfaatnya bagi rakyat… Pina dan teman-temannya…
pina..??…new story old cover ya,..sy?.semua tentang “ketidak beresan” kalo inget hal begini.kaya’ ada sesuatu ditenggorokan.muak bgt.but life must go on,”kerusakan” pada setiap sistem di negri ini berakar pada pola pikir setiap individunya.beban yang berat buat generasi yang akan datang.
“jika “bapak” kita salah sehingga kita menjadi susah, kita harus memberi tahu pada anak kita, agar anak-cucu mereka tidak akan susah seperti kita”.
baru 63 thn kita merdeka.generasi pertama (para pejuang)hanya ingin merdeka.generasi ke 2 (para pembangun) telah berusaha membangun negri(walaupun mewariskan hutang).kita generasi ke 3, punya banyak pilihan : ingin “merdeka” dari bangsa sendiri, meneruskan pembangunan, atau diam dan menangisi nasib.pendidikan adalah hak setiap warga negara.tapi sistem pendidikan yang “rusak” tidak terjadi begitu saja.ini warisan.kita harus bisa mewariskan hal-hal yang lebih baik dimasa depan.
karna satu pemikiran positif.sudah 55 kepala yang berpikir dan berpendapat.satu hal positif tentang kebaikan…
…heil easy….
hiks… masih buanyak Pina-Pina yg lain di negeri ini.
hiks… negeri kaya alam, namun salah urus.
hiks… semoga pemerintah mendatang diberi hidayah buat menata negeri dan anak negeri ini. Amin…
hiks… kok ada ZFLY yg laen tu lies..
No commment…..
#udah kaya’ pejabat belum?#
gak ada fotonya ya mbak?
jangan khan di papua,di ibukota saja… banyak yg putus belajar hanya gara2 biaya… T_T
[...] tidak? baru saja hari kemarin (tepatnya 14 Oktober 2008) jadi blog pilihan detik dengan Pina sebagai judul tulisannya. Pagi ini sudah muncul kembali sebagai blog pilihan dengan lagu yang [...]
terharu,salut bwt pina,semoga dia
tetap jadi pina yang easy kenal
salahkan 32 tahun !
[...] lama saya posting tentang Pina, kali ini saya ingin bercerita tentang Pian. Pian tidak sama dengan Pina, karena Pian bukanlah nama [...]